PARA ilmuwan yang berasal dari Afrika dan beberapa negara lain mendesak penggantian nama virus cacar monyet (West Africa dan Congo Basin). Menurut mereka, nama tersebut sungguh mengandung stigma negatif dan diskriminatif.
"Dalam konteks wabah global, penamaan nama virus cacar monyet bukan hanya keliru, tapi juga diskriminatif dan mengandung stigma," kata ilmuwan dalam laporan paper yang diterbitkan secara online, dikutip dari Stat News, Senin (13/6/2022).
Christian Happi, seorang Direktur African Center of Excellent for Genomics of Infectious Disease di Redeemer's University di Ede, Nigeria, adalah salah seorang ilmuwan yang mengusulkan perubahan nama tersebut. Secara sederhana, ilmuwan meminta nama cacar monyet diubah menjadi angka saja.
"Ini yang kemudian dilakukan pada SARS-CoV2 yang mana sebelumnya sempat dikenal dengan istilah virus Wuhan. Kenapa menamai virus berdasarkan lokasi ditemukannya virus tersebut?" tegas Happi.

Tak hanya soal nama, Happi pun geram dengan pemberitaan di banyak media yang menampilkan tangan anak-anak Afrika dengan lesi cacar monyet untuk judul berita terkait dengan artikel tentang wabah yang menyebar di antara pria gay.
BACA JUGA:Apakah Cacar Monyet Sisakan Bekas Luka?
"Kami menilai ini adalah diskriminatif dan menurut kami itu menstigmatisasi dan sampai batas tertentu, saya merasa itu rasis," ungkap Happi.