Pada tahun 1980, keluarga kerajaan akhirnya mengambil alih perusahaan—berganti nama menjadi Arabian American Oil Company atau Aramco, pada tahun 1944. Menurut pemerintah Arab Saudi, produksi minyak mentah meningkat rata-rata 19 persen per tahun dari 1945 hingga 1974, mencapai 8,2 juta barel per hari pada tahun itu.
Pada awal 1990-an, para penambang menemukan sumber gas dan minyak di daerah yang sebelumnya belum dijelajahi, memastikan peran Arab Saudi sebagai pemain minyak utama di masa mendatang.
Tahun lalu, Kedutaan Besar Arab Saudi di London mengatakan negara Timur Tengah itu memiliki cadangan minyak 260,1 miliar barel. Sumber daya minyak yang luas di kawasan itu telah membuat dunia duduk dan memperhatikan. Terlepas dari kekhawatiran tentang pelanggaran hak-hak sipil di Arab Saudi, Washington telah mempertahankan hubungan dekat dengan negara tersebut.
Beberapa ahli mengeklaim kelimpahan minyak ini berperan dalam keputusan Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengobarkan Perang Teluk Persia 1991 dan menantang pemimpin Irak Saddam Hussein di tahun-tahun berikutnya. Minyak selama ini menyumbang lebih dari 90% pendapatan anggaran Arab Saudi.
Namun, Putra Mahkota Mohammed bin Salman tak ingin terus-terusan menggantungan sumber pendapatan negara pada minyak. Dia melakukan reformasi besar-besaran untuk mendiversifikasi sumber ekonomi Arab Saudi, termasuk meluncurkan megaproyek yang menjadikan negara itu sebagai tujuan wisata dan hiburan.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.