Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kurang Dokter Spesialis, Dalang Utama Pelayanan Jantung Tak Merata di Indonesia

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Kamis, 02 Juni 2022 |14:30 WIB
Kurang Dokter Spesialis, Dalang Utama Pelayanan Jantung Tak Merata di Indonesia
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin
A
A
A

Meski menjadi penyakit pembunuh nomor satu di masyarakat, faktanya layanan jantung di Indonesia memang belum merata. Sebab, tak semua provinsi di Indonesia memiliki fasilitas kesehatan yang hadir dengan mempunyai unit pelayanan jantung.

Akibatnya, tak jarang membuat banyak pasien jantung tidak mendapatkan pelayanan yang optimal. Beberapa dari pasien jantung bahkan dilaporkan meninggal dunia sebelum mendapatkan pertolongan.

Lantas, apa penyebab utama kondisi ini masih terjadi di Indonesia bahkan sampai saat ini? Menurut Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, letak masalah bukan di dana ataupun alat. Namun, karena kurangnya jumlah dokter spesialis.

"Masalah ketersediaan alat itu bisa ditangani oleh kami 12 bulan. Tapi, kalau masalah ketersediaan dokter spesialisnya, ini PR besar. Tidak banyak dokter spesialis tersebar di Indonesia," ungkap Menkes Budi dalam konferensi pers virtual, Kamis (2/6/2022).

 BACA JUGA: Kemenkes Targetkan Tahun 2024 Seluruh Provinsi Punya Layanan Jantung

BACA JUGA:Wamenkes Ingatkan Bahaya Rokok Elektrik Sama dengan yang Konvensional

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri memberi standar jumlah dokter per penduduk itu 1:1000. Artinya, 1 dokter melayani 1000 orang, bahkan di negara maju 3-5 dokter untuk 1000 orang.

Sementara menurut data dari Kemenkes, baru 28 dari 34 provinsi di Indonesia yang bisa memberikan layanan jantung secara lengkap. Sisanya tidak bisa memberikan pelayanan jantung, karena tidak ada dokter spesialis.

Tercatat dokter dengan STR dan berpraktek itu ada 140 ribu, padahal kebutuhan di Indonesia adalah 270 ribu dokter jika mengaku 1:1000. Dengan hitung-hitungan ini, kekurangan 130 ribu tenaga dokter setidaknya baru terpenuhi 10 tahun ke depan.

Sebagai solusi masalah defisit jumlah dokter spesialis tersebut, Kemenkes saat ini tengah membuka program beasiswa dokter spesialis.

"Untuk itu, kami buka program beasiswa ini dan kami prioritaskan memang untuk dokter-dokter yang mau ditempatkan di wilayah yang belum banyak tersedia dokter spesialis apalagi sub spesialisnya. Program beasiswa agar produksi dokter spesialisnya bertambah dengan cepat,” tutup Menkes Budi.

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement