Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Intip Restoran Batavia di Hanoi, Ada Foto Bung Karno Simbol Kedekatan Indonesia-Vietnam di Masa Lalu

Antara , Jurnalis-Senin, 16 Mei 2022 |04:05 WIB
Intip Restoran Batavia di Hanoi, Ada Foto Bung Karno Simbol Kedekatan Indonesia-Vietnam di Masa Lalu
Restoran Batavia di Kota Hanoi, Vietnam (Foto: ANTARA/Dolly Rosana)
A
A
A

Demi mendapat label halal itu, Nurlaela harus memastikan bahan-bahan masakan hingga produk yang dijual tidak mengandung bahan-bahan tak halal seperti mengandung daging babi dan minuman beralkohol.

“Di sini minum alkohol sudah menjadi gaya hidup, tapi kami tegaskan ke pengunjung tidak akan menjualnya. Bahkan membawa dari luar pun tidak boleh,” kata dia.

Nurlaela mulai merintis bisnis restoran ini pada 2017 bersama suaminya, Azhar Rizal yang bekerja di Kedutaan Besar RI (KBRI).

Awalnya, ia memulai bisnis kuliner ini berupa katering masakan halal untuk sekadar memenuhi permintaan kalangan internal KBRI.

Namun, lama kelamaan ia mendapati bahwa pesanan semakin bertambah banyak terutama dari luar KBRI. Terkadang ada pula warga Hanoi yang meminta dimasakkan nasi minyak.

Ia pun menangkap ini sebagai peluang bisnis yang sayang jika disia-siakan, sembari mendampingi suami yang menjadi diplomat.

“Saat awal-awal sekali, kami bahkan potong sendiri ayam. Tapi kini sudah tidak lagi, sudah ada yang menyediakan (pihak ketiga), termasuk untuk tempe dan tahu,” kata dia.

Restoran Batavia

(Foto: Instagram/@bataviahanoi)

Ibu tiga anak ini tak menyangkal bahwa tak mudah untuk menjalankan bisnis restoran halal masakan Indonesia ini. Dibutuhkan kegigihan untuk tetap bertahan karena pangsa pasar yang dibidik yakni 60 persen warga Vietnam dan kalangan ekspatriat.

Ia tak mungkin membidik WNI karena warga Indonesia yang berada di kawasan tersebut tak melebihi 200 jiwa dari total 600 orang di Vietnam. Bahkan khusus di kawasan utara, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Vietnam hanya tercatat delapan orang.

Di sisi lain, warga Vietnam merupakan komunitas mayoritas nonmuslim yang dikenal sangat militan dengan masakan bangsanya sendiri.

Jelas ini menjadi tantangan luar biasa bagi pasangan suami istri asal Kalimantan Barat dan Jawa Tengah ini. Selain tentunya modal usaha yang relatif besar, ia juga harus mendatangkan tenaga kerja dari Indonesia demi mengangkat cita rasa masakan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement