Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pesona Masjid Tgk Syiek Kuta Karang, Bertahan Lewati Penjajahan Belanda

Antara , Jurnalis-Selasa, 26 April 2022 |04:30 WIB
Pesona Masjid Tgk Syiek Kuta Karang, Bertahan Lewati Penjajahan Belanda
A
A
A

Tgk Syiek Kuta Karang

Syekh Abbas bin Muhammad al-Asyi adalah nama asli dari Tgk Syiek Kuta Karang, selain ulama besar dan pejuang melawan Belanda, ia juga dikenal sebagai ahli astrolog atau ilmu falak. Bahkan cukup ahli dalam dunia pengobatan pada abad ke 19.

Tgk Syiek Kuta Karang tak hanya dikenal dan dikenang oleh sebagian besar masyarakat Aceh, tetapi juga banyak diketahui warga negeri jiran Malaysia. Hal itu karena sebagian besar karyanya juga tersimpan di sana.

Meski dikenal hebat dan mampu dalam berbagai ilmu, namun tanggal dan tempat kelahirannya tak tercatat, masih menjadi tanda tanya masyarakat Aceh.

Ikhwani menjelaskan beberapa hal yang diketahui dari berbagai sumber dan bukunya, Tgk Syiek Kuta Karang memang merupakan orang asli di sana, sehingga nama desa di itu diberikan sesuai nama akrab ulama besar Aceh tersebut.

Tgk Syiek Kuta Karang meninggal dunia pada November 1895, dan dimakamkan di komplek pemakaman Tgk Abdullah Kan'an, di Desa Leugeu Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar.

Tgk Abdullah Kan'an sendiri merupakan seorang ulama besar asal Palestina yang menyebarkan Islam ke Aceh pada 1880 Masehi. Dulunya, Tgk Syiek Kuta Karang sendiri pernah menjadi salah satu penjaga makam penyebar Islam tersebut.

Kata Ikhwani, selain menjaga makam Tgk Abdullah Kan'an, Tgk Syiek Kuta Karang dulunya juga memiliki posisi penting di kerajaan Aceh, salah satunya sebagai penasehat hukum dalam pengambilan kebijakan.

"Dulu Syiek Kuta Karang juga sebagai penjaga makam Tgk Abdullah Kan'an, dan juga menjadi pengambil keputusan hukum," kata Ikhwani.

Dari beberapa sumber yang dibaca, di mata seorang orientalis Belanda Snouck Hurgronje, Tgk Syiek Kuta Karang merupakan tokoh ulama aktif, pintar, namun aneh.

Menurut Snouck, kata Ikhwani, Tgk Syiek Kuta Karang dikenal sebagai seorang aktif dalam menuangkan pemikirannya, baik melalui pengajaran di lembaga dayah yang ia bangun maupun melalui tulisan dan bahkan dalam bentuk aktivitas dakwah. Terutama dalam mengatasi kondisi Aceh yang sedang dalam perang melawan Belanda.

Karena tidak hanya menguasai ilmu ajaran keagamaan sebagai seorang ulama, tetapi juga ahli astrologi dan kedokteran serta pengobatan. Namun, yang dianggap aneh lagi pemikirannya berbeda dalam banyak hal berkaitan dengan prilaku perang.

"Dalam buku yang saya baca ini, Snouck Hurgronje juga melihat Tgk Syiek Kuta Karang sosok ulama aneh, karena ia sangat menentang Belanda," ujarnya.

Semasa hidupnya, Tgk Syiek Kuta Karang banyak meninggalkan karyanya, mulai dari tentang sejarah, keagamaan, hingga buku terkait pengobatan.

Ia menyebutkan, terdapat lima kitab yang sempat dituliskan ulama besar Aceh itu yakni Al-Qun'u li man Ta'attafa pada tahun 1843. Kemudian buku Siraj al-Zalam pada 1849, dan buku Al Rahmah fi al-Tibb sekitar tahun 1853.

Selanjutnya, setelah mendirikan masjid dan masa perang melawan Belanda kembali menulis buku keempatnya yaitu berjudul Maw'izah al-Ikhwan pada 1886, serta buku terakhirnya berjudul Tadhkirah al-Rakidin tahun 1889.

"Jadi ada lima buku yang beliau karang selama hidupnya, dan banyak karyanya itu di Malaysia, saya saja dapat buku ini setelah memesan dari orang Malaysia," kata Ikhwani.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement