Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Gerilyawan Masjid Bungkuk Malang, Kebal Peluru usai Makan Telur Ayam Mentah

Avirista Midaada , Jurnalis-Kamis, 14 April 2022 |16:05 WIB
 Mengenal Gerilyawan Masjid Bungkuk Malang, Kebal Peluru usai Makan Telur Ayam Mentah
Masjid Bungkuk Malang (Dok MPI/Avirista)
A
A
A

MASJID Bungkuk di Singosari Malang cukup monumental. Selain sebagai pusat penyebaran agama Islam di Malang Raya, masjid tertua di Malang ini juga menjadi markas gerilyawan di masa agresi militer Belanda.

Di masjid ini pula para santri dan gerilyawan digembleng ilmu kanuragan untuk melawan Belanda, satu di antaranya ilmu kebal peluru. Caranya dengan menelan telur ayam mentah yang telah dibacakan doa khusus oleh kiai.

Generasi keempat pendiri Masjid Bungkuk KH Moensif Nachrawi menuturkan, di masjid tersebut para pejuang digembleng baik fisik maupun spiritual untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karenanya para santri dan gerilyawan berani bertempur hingga di garda depan.

"November 45 Belanda datang lagi bersama sekutu-sekutu waktu itu Inggris. Sebetulnya itu urusannya sekutu. Tapi Belanda ndompleng (ikutan) kepingin masuk lagi ke Indonesia," ucap Moensif ditemui di rumahnya di Jalan Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

infografis

BACA JUGA:Intip Keindahan Arsitektur Masjid Pink Iran, Kombinasi Warnanya Unik Menyegarkan Mata

Saat itu Belanda dan sekutunya memasuki Indonesia mulai dari kawasan Surabaya. Belanda dan sekutu terus bergerak ke selatan mencoba menguasai kembali beberapa daerah ke selatan Surabaya yang sempat dikuasai sebelum kedatangan Jepang.

"Waktu itu mulai masuk dari Surabaya yang diincar mulai terjadi rundingan gagal, rundingan gagal, perang lagi, hingga ada perang enam hari matinya Jenderal Mallaby. Belanda bertahan (tahun) 45 akhir 46, (tahun) 47 di Surabaya, 47 mulai merangsek ke selatan," katanya.

Ia menambahkan, saat itu wilayah Malang dan sekitarnya memang belum dalam penguasaan Belanda. Namun pergerakan Belanda yang terus merangsek ke selatan memasuki daerah Porong, membuat pejuang sekitar Malang bersiaga. Antisipasi pun dilakukan para pejuang termasuk tokoh-tokoh ulama Islam di Malang dan sekitarnya. Mereka bersama-sama rakyat dan gerilyawan berlatih perang dan membekali dengan ilmu spiritual, yang akan dikirim ke Porong untuk berjuang melawan Belanda dan sekutunya.

"Di saat di sana itu gerilya itu dikirim rata-rata cuma dibekali istilahnya tahan peluru. Minum telur ayam, dikasih doa ditelan. Biar orang-orang yang mau berangkat untuk gerilya biasanya diangkut menuju perbatasan frontnya, di daerah Porong dikirim ke sana," terang pria yang juga penasehat takmir Masjid At Thohiriyah, Bungkuk.

"Dari mana-mana dari Jember ke sana, dari Malang ke sana, Singosari ini tempat mengemblengnya mengebalkan di sini, nggak ada markas tentara tentara nggak ada baru berdiri Oktober, nggak ada waktu itu yang ada gerilyawan," katanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement