Dijelaskan Prof Jennifer Brello, seorang Profesor Klinis di Ohio State University sekaligus direktur OSU Aphasia Initiative, afasia adalah gangguan bahasa yang dihasilkan dari kerusakan pada belahan otak kiri.
"Gangguan tersebut dapat menyebabkan kesulitan menggunakan kata atau kalimat, memahami bahasa, membaca, dan menulis," kata Prof Brello pada Yahoo Life, dikutip MNC Portal, Kamis (31/3/2022).
Afasia bisa terjadi dalam stasiun ringan hingga berat. Menurut National Aphasia Association (NAA), masalah kognitif ini dapat memengaruhi terutama satu aspek penggunaan bahasa, seperti kemampuan mengenali nama objek atau kemampuan untuk menggabungkan kata-kata menjadi kalimat, atau kemampuan membaca.
"Secara umum, orang yang mengalami afasia itu aspek komunikasinya terganggu, sementara itu beberapa kemampuan tetap ada sekalipun terbatas," terang NAA.
Untuk mengenali seseorang afasia atau tidak, ada 3 poin penting yang dilihat. Pertama, apakah seseorang dapat berbicara dengan mudah atau dengan banyak usaha, kedua apakah orang tersebut memiliki kemampuan menulis yang baik, dan ketiga apakah orang tersebut bisa mengulang kata atau frasa dengan baik.