PAMOR pawang hujan mendadak meljit karena sosok Raden Rara Istiati Wulandari atau Rara. Bukan hanya popularitas positif, tapi komentar negatif pun ramai dilayangkan untuk sang Pawang Hujan MotoGP Mandalika.
Perempuan kelahiran Jayapura, Papua, pada 22 Oktober 1983 itu kini benar-benar dirujak netizen. Pekerjaannya dianggap hal klenik dan sangat disayangkan ditampilkan di pagelaran bertaraf Internasional yaitu MotoGP Mandalika.

Meski begitu, Rara tidak memusingkan kalau ada pihak yang tidak senang kepadanya. Ia memilih fokus pada apa yang diyakininya dan mengerjakan tugas sebagai pawang hujan secara profesional.
Pamor profesi pawang hujan pun jadi buah bibir sekarang. Banyak orang yang penasaran sebetulnya pawang hujan itu ngapain dan sejak kapan profesi ini eksis di tanah Indonesia.
Dalam jurnal yang diterbitkan di eJournal Universitas Diponegoro, paparan di buku berjudul 'Drawings of Balinese Sorcery' karya Hooykaas (1980) mengklasifikasikan panerangan tolak hujan dan pengujanan panggil hujan dalam kategori keeping watch, change, and defence atau penjaga, pengubah, dan pembela diri.
"Tolak hujan dipadankan dengan the art of clearing the sky atau ilmu membersihkan langit, sedangkan panggil hujan dipadankan dengan the art of making wind and rain atau ilmu membuat angin dan hujan," terang isi jurnal tersebut, dikutip MNC Portal, Senin (21/3/2022).
BACA JUGA : Fakta-Fakta Sosok Rara Si Pawang Hujan MotoGP Mandalika, Berani Bongkar Rahasia Ritualnya!
Mantra tolak dan panggil hujan merupakan gabungan antara mantra dan sarana teks. Sarana di sini dimaksud dengan sesajen dan rerajahan gambar yang biasanya terdiri atas huruf atau figur.
BACA JUGA : Rara si Pawang Hujan MotoGP Ternyata Pernah Bantu Pencarian Korban Susur Sungai, Datang Tanpa Diundang
Untuk menolak hujan, dapat digunakan figur gambar Bhatara Yama atau dewa penguasa surga yang mengadili roh setelah melewati batas akhir hidup. Atau digunakan gambar Singambara atau singa terbang. Rerajahan gambar berbentuk lingkaran atau persegi juga bisa dipakai.
Soal mantra teks, bisa dipakai rerajahan Bhatara Guru, Bhatara Wisnu, Hanoman kera putih, atau Bhima yang merupakan tokoh sakti dari Pandawa lima. Figur lain yang sering dimunculkan adalah Demung Dodokan atau dewa naga laut, Kalarau, Yuyu kepiting, Kodok kodok, Dewa Langit Arsa Telu, atau Naga Nguyup Matanai.
"Hooykaas menjelaskan di bukunya juga bahwa ritual tolak hujan dapat digunakan sebagai proteksi pertunjukan wayang kulit," terang laporan tersebut.