Mereka mungkin meninggal secara terpisah, dimumikan dan dikuburkan pada waktu yang berbeda pula. Bisa jadi semua mumi yang ada di dalam makam Aline merupakan satu keluaga.
Teks papirus memaparkan, adanya praktisi pengobatan Mesir Kuno belum tentu memahami secara spesifik penyebab infeksi dan penyakit. Melalui percobaan dan observasi, mereka mengumpulkan banyak pengetahuan pengobatan penyakit dan cedera.
Perban yang digunakan untuk melindungi luka gadis muda itu diidentifikasi saat para arkeolog melakukan CT scan. Pemindaian ini mengungkapkan banyak detail tentang karakteristik fisik dan kondisi individu mumi.
Idealnya, Zink menginginkan kesempatan untuk memeriksa luka gadis muda itu lebih teliti. Ini memungkinkan Zink untuk mempelajari lebih lanjut tentang prosedur perawatan medis yang digunakan orang Mesir.
“Kemungkinan besar mereka mengoleskan ramuan atau salep tertentu untuk mengobati peradangan di area ini,” tegas Zink.
Penyebab kematian mumi anak ini cukup serius sehingga perawatan yang diterimanya tidak mampu menyelamatkan hidupnya. Tujuan utama dari pemeriksaan luka lebih dekat adalah untuk mengidentifikasi penyakit, cedera, serta penyebab kematiannya.
Berisiko merusak mumi, membuka bungkus mumi untuk meneliti lebih lanjut pun urung dilakukan. Sebagai alternatif, Zink berharap menggunakan jarum biopsi untuk mengambil sampel dari area luka. Prosedur ini tidak memerlukan intervensi apa pun selain penyisipan dan penarikan jarum.
Penemuan mumi anak dengan luka ini sangat penting karena belum pernah ditemukan sebelumnya. Ada kemungkinan mumi lain berisi pembalut serupa di atas luka. Tetapi karena linennya sangat mirip dengan pembungkus mumi, perban linen mungkin diabaikan atau salah diidentifikasi dalam pemeriksaan.
Kemungkinan lain adalah bahwa perban biasanya tidak bertahan dalam proses mumifikasi. Bisa juga terjadi bahwa perban dipasangkan oleh orang yang bertugas membalsam, meski tidak ada gunanya lagi.
Ini mungkin dilakukan atas permintaan orang tua, dengan asumsi mereka mengharapkan hidup si Anak berlanjut di alam kematian.
“Mungkin mereka mencoba entah bagaimana untuk melanjutkan proses penyembuhan,” tambah Zink.
Penelitian lebih lanjut akan terus dilakukan. Mumi Mesir Kuno sangat menarik untuk diteliti oleh para ilmuwan. Aktivitas ini menjadi penghargaan bagi peradaban yang menyempurnakan teknik pembalsaman.
Pembalsaman dilakukan dengan sangat baik untuk mengawetkan mayat pada budaya Mesir Kuno. Ini memungkinkan peneliti untuk memeriksa mumi secara mendetail. Banyak informasi tidak terduga yang diperoleh melalui penelitian mumi yang terpelihara dengan baik. Hal yang sama tidak dapat diperoleh dari sisa-sisa kerangka tubuh yang tidak dimumikan dari peradaban lain.
“Selalu ada kejutan saat kita mempelajari mumi,” tutur Zink kagum. Baginya, selalu ada hal baru dari setiap penelitian mumi.
(Kurniawati Hasjanah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.