Ada kekhawatiran yang kian besar bahwa prakarsa itu menjadi perangkap utang yang membuat negara debitur dengan mudah didikte China.
Laos yang menanggung 30 persen kewajiban mendanai proyek kereta cepat itu sendiri tak memiliki dana sehingga terpaksa meminjam Bank Ekspor-Impor China.
Sekalipun China menaksir satu juta penumpang akan menggunakan kereta cepat Viantiane-Kunming, jalur ini diperkirakan belum akan mendatangkan turis China dalam jumlah besar untuk waktu dekat ini karena China sendiri masih memberlakukan kebijakan pembatasan perjalanan terkait COVID-19.
Laos bisa menaruh harapan kepada terhubungnya jalur Laos ini ke Thailand sampai Singapura. Tapi itu masih lama dan jelas di luar kendali Laos.
Thailand yang sudah menyetujui desain kereta cepat buatan China sampai Laos, terus molor dalam mengeksekusi proyek ini dan diperkirakan baru merampungkan bagiannya pada 2028. Tetapi menurut sejumlah diplomat seperti dilaporkan Yomiuri Shimbun, Thailand berusaha mendanai sendiri proyek kereta cepat ini untuk menghindari intervensi berlebihan China dalam proyek ini.
Sedangkan pemerintah Malaysia baru memulai mempelajari jalur kereta cepat menuju Bangkok dan ini pun masih tergantung kepada jenis rezim yang berkuasa di Kuala Lumpur, selain juga hati-hati dalam melihat kerangka finansial China dalam proyek semacam ini.
Oleh karena itu jalur kereta cepat Laos belum akan segera tersambung ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Dan ini juga mengartikan Laos masuk siklus membayar tagihan utang yang besar kepada China.
Laos bukannya tak menyadari hal ini. Tapi mereka dihadapkan kepada dilema antara terus miskin atau meningkatkan konektivitas ke negara tetangga-tetangga demi memajukan dirinya.
"Jika kami tak menerima, kami memang menjadi tak punya utang. Tapi kemudian kami akan terus miskin seperti sekarang," kata seorang pejabat senior Laos pada 2017 kepada David Lampton, profesor hubungan internasional pada Universitas Johns Hopkins.
Bagi China, apa yang terjadi di Laos makin mendorong mereka mewujudkan jalur kereta cepat sampai Singapura, selain jalur kereta lainnya ke Myanmar, Vietnam dan Kamboja yang bukan jalur kereta cepat itu.
Konektivitas mutlak
Sekalipun mitra-mitranya di Asia Tenggara berulang kali diguncang kudeta dan perubahan kepemimpinan politik akibat pemilu, China tak surut memajukan program jalur kereta cepat ini.
Salah satu faktornya adalah terus tegangnya jalur pelayaran Laut China Selatan yang memaksa China memikirkan opsi darat.
"Sulit sekali memajukan proyek-proyek Sabuk dan Jalan melalui jalur laut mengingat adanya ketegangan maritim itu," kata seorang analis China yang enggan menyebutkan namanya seperti dikutip South China Morning Post. "Jalur darat juga dapat menghindari kemungkinan blokade laut."
Dalam konteks ini pula China berusaha keras memajukan jalur kereta cepat China-Eropa sampai terhubung Shanghai di Pasifik, padahal kota ini biasanya menjadi pintu utama China untuk distribusi via laut.