VIRUS Covid-19 kembali bermutasi menjadi Varian Mu, setelah varian Delta dan Delta Plus. Kabar tentang varian ini pun masih simpang siur, lantaran baru ditemukan pada awal tahun ini.
Berbeda dengan varian Delta dan Delta Plus yang menurunkan efikasi vaksin, varian Mu dikabarkan memiliki kekebalan dari vaksin. Hanya saja, kebenaran ini masih perlu penelitian lebih lanjut. Nah, berikut ada sederet fakta-fakta seputar varian Mu, seperti dilansir dari Livescience.
Memiliki kode B.1.621
Jika varian delta memiliki label Pango B.1.617.2 dan Delta Plus B.1.617.2.1, maka varian mu memiliki label B.1.621. Para ahli menyimpulkan varian Covid-19 B.1.621 adalah keturunan dari varian B.1.
Anggota dari garis keturunan varian ini memiliki sisipan 146N, bersama dengan beberapa substitusi seperti I95I, 144T, dan Y145S dan semuanya berada pada domain terminal-N; R346K, E484K, N501Y (ketiganya di domain pengikatan reseptor, RBD); dan P681H.
Terdeksi Pertama Kali di Kolombia
Laporan dari News Medical menyebut virus tersebut beredar pada Maret hingga April 2021 lalu. Tapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut varian ini sudah ada sejak Januari 2021. Meskipun informasih tersebut masih simpang siur, tapi semua informasi menyebut Kolombia sebagai negara asal varian Mu.

(Ilustrasi Varian Mu/Foto: Shutterstock)
Kebal Vaksin
WHO mengklasifikasikannya sebagai variant of interest (VOI). Menurut WHO, varian mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan vaksin. Label VOI, berarti prevalensi varian tersebut meningkat di beberapa area dan mutasi ini cenderung mempengaruhi karakteristik virus.
Ahli penyakit menular dari Mater Health Services dan University of Queensland, Paul Griffin, mengatakan bahwa protein yang berubah di virus pastinya akan memengaruhi vaksin. "Jika lonjakan protein lonjakan itu berubah secara signifikan, maka pasti ada potensi vaksin kami bekerja kurang baik," kata Griffin
Terdeteksi di 39 Negara
Sejauh ini, varian mu telah terdeteksi di 39 negara, termasuk di Amerika Selatan, Eropa dan Amerika Serikat. Sebuah studi dari University of Miami mendeteksi varian ini pada 9 persen kasus di Jackson Memorial Health System di Miami, menurut Medpage Today. Bahkan, dikabarkan varian ini sudah mencapai Jepang.