Persebaran manusia di kawasan Wallacea, kata dia, tentu membuka peluang menelusuri keberadaan Denisovan. Melihat lokasi tempat tinggal 'Besse', secara morfologi gua yang ditempatinya bisa dijadikan tempat bermukim pada ribuan tahun lalu.
Bila melihat hasil temuan ini, pada masa itu ada perlakuan saat proses penguburan orang mati sejak 7.200 tahun lalu. Rangka ditemukan selain tengkorak remuk, ada pula beberapa potong tulang panjang dengan posisi kerangka terlipat.
Ditemukan pula artefak, alat perburuan budaya kuno Suku Toalean atau Austronesian yang berdekatan dengan kerangka 'Besse'.
Temuan ini cukup fantastis, karena sangat jarang sekali ada DNA terawetkan di dalam kerangka Besse, sebab negara tropis sangat sulit menyimpan genom DNA, sehingga menjadi analisis DNA yang pertama di Maros, dan Indonesia.
Dilansir dari laporan jurnal Nature, yang diterbitkan pada 25 Agustus 2021, 'Besse' ditemukan pada 2015 terkubur dalam posisi janin di Leang Panninge, gua prasejarah bebatuan kapur di Kabupaten Maros. Kawasan itu masih merupakan bagian wilayah Wallacea.
Posisi fosil digambarkan dengan punggung melengkung, kepala menunduk, dan tangan dan kaki dilipat ke dekat torso. Para penulis di jurnal ini menyebut, pertama kalinya ditemukan DNA manusia purba di wilayah itu.
'Besse' juga dianggap bagian dari orang Toal, karena saat ditemukan, di sampingnya terdapat alat-alat jenis Toalean, alat yang dipakai orang Toal.
"Ini memberikan bukti kuat terkait hubungan 'Besse' dengan orang-orang Toal yang kurang dikenal ini," kata arkeolog Australian National University di Canberra, Shimona Kealy, dalam jurnal itu.