VAKSIN Gotong Royong memang sudah dilakukan di beberapa perusahaan. Vaksin ini pun kemudian diperluas untuk kalangan umum melalui Kimia Farma.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan seiring lonjakan kasus yang terjadi saat ini, Kemenkes memperoleh banyak masukan dari masyarakat untuk mempercepat vaksinasi melalui jalur individu.
“Vaksinasi Gotong Royong individu ini sifatnya hanya sebagai salah satu opsi untuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi dan menambah akses ke masyarakat. Vaksinasi Gotong Royong Individu ini tidak wajib dan juga tidak akan menghilangkan hak masyarakat untuk memperoleh vaksin gratis melalui program vaksinasi pemerintah,” terang dr. Siti saat dihubungi MNC Portal.
Menurutnya, vaksinasi Gotong Royong Individu dipastikan tidak akan mengganggu vaksinasi yang telah menjadi program pemerintah. Sebab, mulai dari jenis vaksin, fasilitas kesehatan, dan tenaga kesehatan yang dipergunakan dari dua program vaksinasi ini jelas akan berbeda.
“Vaksinasi Gotong Royong Individu hanya akan menggunakan vaksin merek Sinopharm, sementara vaksin pemerintah akan menggunakan vaksin merek Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan Novavax,” katanya.
Perempuan yang juga menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kementerian Kesehatan ini pun mengatakan, langkah ini memang dilakukan lantaran banyaknya permintaan dari masyarakat yang belum bisa mendapatkan vaksin.
“Jadi tidak benar bila program Vaksinasi Gotong Royong Individu dilakukan dikarenakan oleh desakan Kementerian BUMN,” tutur dia.
Sebagaimana diketahui, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa Vaksin Gotong Royong merupakan opsi. Terkait dengan hal, apakah masyarakat bisa mengambilnya atau tidak, yang penting pemerintah telah membuka pilihan yang luas bagi mereka yang ingin mengambil vaksin gotong royong baik melalui perusahaan maupun individu.
Menurutnya, banyak pengusaha yang belum bisa mendapatkan akses ke vaksin gotong royongnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Ada beberapa perusahaan pribadi atau perusahaan kecil yang ingin akses ke vaksin gotong royong, tapi belum masuk ke programnya Kadin.
(Martin Bagya Kertiyasa)