Dikutip dari buku "Pesona Pulau Lombok" dari Hetti Murdiasih, beberuk terong adalah lalapan yang dimakan bersama ayam taliwang. Rasa pedas, manis, asam dan segar terasa menyatu berkat bumbu halus berisi cabe, bawang merah dan bawang putih, terasi bakar, gula pasir, kencur, garam dan minyak goreng ditambah perasan jeruk limau.
Rasa pedas yang membuat mata berair segera terpadamkan berkat segelas es kelapa dengan gula aren yang menutup makan malam hari itu. Restoran sate rembiga ini juga menjual sate-sate lain, yakni sate ayam dengan pilihan bumbu kacang dan bumbu rembiga, sate hati, sate pusut (mirip sate lilit Bali).
Anda juga bisa menikmati pelecing, urap, pepes kepala ikan, telur goreng juga tempe dan tahu goreng. Makanan dan minuman di sana dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp25.000.
Dosen Politeknik Pariwisata Lombok, Lalu Ratmaja, menjelaskan asal usul sate rembiga. Sebelum menjadi nama daerah, kawasan Rembiga dulunya ditumbuhi banyak tanaman rembiga.
"Namanya diambil dari nama daun, pohon yang tumbuh di situ. Daunnya tebal, getahnya bisa dipakai sebagai obat gigi. Di sana dulu cuma itu yang tumbuh," kata Lalu.

Di kawasan yang dulunya dekat bandara Selaparang, sejak dulu ada banyak orang yang menyantap sate, akhirnya sate tersebut dijuluki sate rembiga yang dibuat oleh orang-orang di kawasan Rembiga.
Lalu juga menjelaskan sate lain yang jadi makanan khas Lombok: sate bulayak. Potongan-potongan daging dalam setusuk sate disantap dengan bulayak, lontong berbentuk spiral panjang yang dibungkus dengan daun enau (aren) muda.
Jadi, sudah terbayang mau makan apa jika kelak berkunjung ke Lombok?
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.