Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Epidemiolog : Klaim Ivermectin Bisa Gantikan Vaksin Covid-19 Sudah Lampaui Batas

Pradita Ananda , Jurnalis-Sabtu, 03 Juli 2021 |11:49 WIB
Epidemiolog : Klaim Ivermectin Bisa Gantikan Vaksin Covid-19 Sudah Lampaui Batas
Ivermectin (Foto : News Medical)
A
A
A

OBAT ivermectin ramai diperbincangkan masyarakat karena diklaim manjur jadi pengobatan pasien Covid-19. Anggapan ini disayangkan oleh Epidemiolog UI, dr. Pandu Riono, MPH,Ph.D.

Menurut dr Pandu klaim tersebut sudah kelewat batas. Ijin edar obat ivermectin yang dikeluarkan oleh BPOM sendiri adalah untuk pengobatan anti parasite. Karenanya, klaim ivermectin bisa berpotensi untuk menggantikan vaksin Covid-19 sudah kelewat batas. 

“Bahkan dalam suatu pertemuan antara PT Harsen dengan suatu kelompok mengatakan obat ini mampu mencegah dan juga bisa menggantikan vaksin. Wah ini menurut saya sudah jadi sesuatu yang melampaui batas. Bahwa belum ada evidence (bukti), sudah demikian klaimnya,” ujar , dr. Pandu Riono, ketika konferensi pers Penggunaan dan Pengawasan Peredaran Ivermectin Badan POM, kemarin. 

Ivermectin

Dokter Pandu memperingatkan masyarakat, bahwasanya obat Ivermectin ini masuk dalam kategori obat keras dan dikonsumsi dengan harus menyertakan resep dokter alias tak bisa sembarangan langsung dibeli bebas di pasaran.

“Menghebohkan sekali dengan adanya Ivermectin, ini adalah obat keras. Pengertiannya, obat ini bisa merugikan, harapannya bisa memberikan manfaat. Tapi bisa juga merugikan kalau pemakaiannya tak sesuai dengan aturan dan indikasi, dosis, dan berapa lama pemakaiannya. Seharusnya yang tahu adalah tenaga kesehatan, dan tidak semua nakes tahu juga sebenarnya,” imbuhnya.

Baca Juga : Selain Langgar Masa Kedaluwarsa, BPOM Sebut Bahan Baku Ivermectin PT Harsen Ilegal

Merujuk pada sifat obat Ivermectin sebagai obat keras dan belum ada bukti yang menunjukkan bahwasanya efektif untuk digunakan sebagai terapi Covid-19. Dokter Pandu memperingatkan masyarakat jangan langsung mudah tergoda dengan rumor yang beredar.

“Kita harus skeptis, jangan langsung mudah percaya, jangan percaya dengan klaim-klaim obat yang belum tentu benar tanpa riset dan penelitian yang baik dan terpercaya,” tutup dr. Pandu Riono.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement