Prof. Eka memprediksi dirinya membutuhkan waktu lebih dari satu minggu mulai dari terpapar hingga tergeletak akibat Covid-19. Bahkan pada saat ke rumah sakit, 1/3 bagian paru Prof. Eka sudah berwarna putih akibat infeksi. Menurutnya, kala itu ia sudah terinfeksi Covid-19 parah sekali, namun ia sangat beryukur karena tidak sampai masuk ICU, meski harus diisolasi dan menggunakan oksigen.
“Saya kan Covid-19 di paru, jadi kalau saya banyak berbicara itu makin bagus, sekalian saya latihan supaya paru saya mengembang. Daripada saya hanya terbaring saja, menurut saya itu sangat negatif. Banyak orang heran, sebab waktu saya terinfeksi itu cukup parah dan nyaris ICU. Tapi pada hari ke-9 di rumah sakit sudah mulai latihan sedikit jalan, terkadang kalau tanpa oksigen masih oke,” tambahnya.
Menurutnya, kemajuan kesembuhan yang berhasil dicapainya terbilang sudah cukup cepat sekali. Prof. Eka pun memberikan sedikit tips bagaimana dirinya bisa memperoleh kesembuhan yang cukup cepat, padahal infeksi paru akibat Covid-19 yang ia alami awalnya cukup memprihatinkan. Menurutnya, menjadi pasien yang baik itu perlu, bukan hanya dokter yang baik, ikuti aturannya dan jadilah aktif.
“Jadi bangsal saya itu hanya berukuran 3x3 meter, tapi saya ubah seperti kantor. Saya mengajar kuliah, kalau ada orang konsultasi saya terima. Kan tidak mengganggu fisik saya. Jadi rupanya lebih baik begini. Tetangga saya (pasien lain) pada nangis-nangis dan telepon-telepon. Jadi positif energi itu dirasakan dan membantu. Karena saya kan tidak mau mengganggu dokter,” tuntasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.