SETIAP pekerjaan tentu ada suka dan dukanya termasuk menjadi awak kabin. Di saat Idul Fitri, mereka harus tetap setia melayani penumpang, seperti yang dirasakan Pramugara Tubagus Rahsa.
Ya, meski terlihat menyenangkan, namun profesi sebagai pramugara juga punya kisah sedih di baliknya. Jam kerja yang padat membuat pramugara atau pramugari harus tetap bekerja bahkan di momen libur seperti Idul Fitri sekalipun.
Baca Juga: Manisnya Pramugari Cindy Pakarti Tampil Berhijab, Lagi Cari Jodoh!

Tubagus Rahsa mengungkap kisah selama ia menjadi pramugara. Banyak hal menyenangkan yang ia dapatkan saat menjalani pekerjaannya, namun juga ada pengalaman kurang menyenangkan.
“Kalau pas lagi di luar kota ya enaknya bisa jalan-jalan, tidur di kasur yang nyaman, main game,” kata Tubagus yang dikutip Okezone dari channel Youtube Tubagus Rahsa.
Namun di balik kenyamanan tersebut, terdapat duka yang harus dirasakan oleh pramugara maskapai Citilink ini. Selama menjadi pramugara, ia harus rela untuk jauh dari keluarganya karena jam terbang yang padat.
“Kalo misal ditanya nggak enaknya itu jauh dari keluarga sih. Dari temen-temen deket kita juga jauh,” ujarnya.
Pramugara yang akrab disapa Tebe tersebut juga mengungkapkan bahwa ia pernah tetap terbang padahal saat itu sedang libur hari raya Idul Fitri. Saat itu ia terbang pada pagi hari sehingga tidak bisa melaksanakan sholat Idul Fitri.
“Pernah juga lebaran Idul Fitri saya terbang. Paginya itu terbang jadi enggak bisa sholat Ied,” ujarnya
Sedangkan lebaran pada tahun 2019 lalu, ia juga harus tetap standby. Standby adalah kondisi dimana para awak kabin berdiam dirumah menunggu panggilan karena mereka dapat terbang sewaktu-waktu.
“Standby kadang dari jam 07.00-15.00. Kalau udah lewat dari jam itu berarti aman,” pungkasnya.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.