Kini aktivitas perburuan liar hewan-hewan di Resort Cibodas TNGGP oleh masyarakat sekitar sudah nyaris hilang.
"Kalau di sini setahu saya tidak ada karena mata pencaharian masyarakat di sini adalah berdagang dan pemandu wisata. Jadi mereka tidak perlu berburu elang karena sumber pencahariannya lebih cepat di sektor lain," kata Sobirin.
Untuk elang jawa, ketika menemukan sarangnya maka petugas TNGGP akan memantau dari jauh untuk memastikan habitatnya tidak terganggu oleh aktivitas manusia yang jika terjadi dapat membuat fauna itu berpindah lokasi.
Selain itu, mereka juga memastikan agar hewan-hewan endemik tersebut memiliki pasokan makanan yang cukup.
Upaya itu tidak sia-sia. Menurut Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto pada 2020 tercatat ada empat ekor macan tutul yang terdeteksi di situs pemantauan menggunakan "camera trap", meningkat dari tiga ekor pada 2019.
Untuk elang jawa terpantau tujuh ekor pada 2019 yang meningkat menjadi 10 ekor pada 2020 sedangkan owa jawa terdapat 162 ekor.
TNGGP tidak hanya memiliki tiga hewan endemik itu dengan hasil inventarisasi satwa liar di sembilan resort menemukan terdapat 27 jenis mamalia, 120 jenis burung, 25 jenis herpetofauna.
Selain itu terdapat pula fauna langka seperti bunga edelweis (Javanese edelweiss) yang padangnya bisa ditemukan di ketinggian 2.750 meter dan berada di timur puncak Gunung Gede.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Okezone.com/Salman Mardira)
TNGGP saat ini tengah berusaha melakukan budi daya edelweis agar para pendaki tidak harus memetiknya dari gunung, sebuah kegiatan yang terlarang.
"Untuk edelweis ini bagaimana budidaya edelweis berhasil dan ini menjadi ladang bagi pemberdayaan masyarakat ke depannya nanti. Jadi para pendaki dan wisatawan tidak harus mengambil di alam tapi disediakan bibit edelweis hasil budidaya kerja sama dengan masyarakat," kata Wahju.
Nilai tambah
Upaya konservasi tidaklah mudah termasuk dengan pengelolaan taman nasional yang berada di seluruh Indonesia.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengatakan luasnya taman nasional juga memunculkan beberapa kendala, termasuk keterbatasan dalam personel dan anggaran.
Ia menyebut majunya TNGGP, salah satu faktornya adalah karena jumlah pengunjung yang besar, mengingat kawasan itu menarik wisatawan dari berbagai kota besar yang ada di sekitarnya seperti Jakarta, Bogor dan Bandung.
TNGGP pada 2019 menghasilkan Rp9,2 miliar sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP), meski jumlah itu menurun menjadi Rp5,1 miliar pada 2020 karena pembatasan pengunjung akibat pandemi COVID-19.