Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fakta-Fakta Unik Masjid Tertua di Maluku, Saksi Bisu Penyebaran Islam

Fatha Annisa , Jurnalis-Senin, 08 Maret 2021 |17:00 WIB
Fakta-Fakta Unik Masjid Tertua di Maluku, Saksi Bisu Penyebaran Islam
Masjid Wapauwe di Desa Keitetu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah (Antara Ambon)
A
A
A

MASJID Wapauwe masih berdiri kokoh di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Dibangun sejak 1414 Masehi, masjid ini jadi saksi bisu penyebaran Islam di Indonesia bagian timur. Selain sebagai rumah ibadah, masjid tua bersejarah ini jadi objek wisata religi atau ziarah.

Masjid Wapauwe dulu bernama Masjid Jamilu yang merupakan salah seorang pembawa Islam di Maluku. Namun, ada riwayat menyebutkan bahwa sebelum Jamilu dan Kiai Pati tiba di sana, masyarakat setempat sudah memeluk Islam yang didakwahkan oleh seorang ulama dari jazirah Arab.

Baca juga: Masjid Agung Banten, Wisata Ziarah Peninggalan Putra Sunan Gunung Jati

Masjid ini mulanya dibangun oleh Kesultanan Jailolo di Desa Wawane dan diberi nama Masjid Jamilu. Kemudian mengalami dua kali perpindahan karena berbagai alasan.

Berikut fakta-fakta menarik tentang masjid tertua di Maluku ini:

Pernah Berpindah Tempat

Pada 1614, bangunan Masjid Wapauwe pernah dipindahkan ke Desa Tahella, sekitar 6 kilometer sebelah timur Desa Wawane. Pemindahan ini tidak mengubah struktur maupun gaya asli bangunan sama sekali. Pemindahan lokasi Masjid Wapauwe merupakan perintah dari pemuka agama setempat yang bernama Imam Rajali. Pemindahan tersebut beralasan agar lokasi masjid dekat dengan pusat penyebaran Islam di Desa Tahella.

Alasan lain yang mendasari pemindahan masjid adalah kedatangan Belanda di tanah Maluku pada tahun 1580, setelah sebelumnya Portugis juga hadir pada tahun 1512.

ilustrasi

Masjid Wapauwe (Instagram @kataomed)

Belanda sering kali mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam. Warga menjadi merasa tidak aman, dan masjid pun dipindahkan. Setelahnya, masjid berganti nama menjadi Masjid Imam Rajali.

Saat Belanda berhasil menguasai seluruh tanah Tahitu pada 1646, sebuah kebijakan dibuat untuk menurunkan seluruh penduduk daerah pegunungan ke daerah pesisir.

Baca juga: Alquran Ini Hasil Sulaman Tangan Selama 32 Tahun, Habiskan 25.000 Benang

Sebagai konsekuensi kebijakan politik dan ekonomi tersebut, masjid kembali dipindahkan lagi ke Desa Ateu, yang kini dikenal dengan nama Kaitetu.

Asal-Usul Nama Wapauwe

Desa Ateu atau Kaitetu merupakan lokasi terakhir pemindahan masjid. Di kawasan tersebut banyak ditumbuhi pohon mangga hutan atau mangga berabu. Dalam Bahasa Kaitetu, mangga itu disebut Wapa. Sementara Wapauwe berarti masjid yang didirikan di bawah pohon Wapa.

Arsitektur Masjid Wapauwe

Selain menyimpan warisan budaya religi masyarakat Maluku, Masjid Wapauwe juga memiliki konstruksi bangunan yang unik. Meski sudah berkali-kali dipindahkan dan direnovasi, arsitektur bangunan tidak berubah sama sekali. 

Hal ini karena Masjid Wapauwe memanfaatkan prinsip arsitektur tradisional Indonesia di mana bagian bangunannya merupakan elemen yang mudah dilepas dan dirakit kembali.

Keunikan lainnya adalah Masjid Wapauwe tidak dibangung menggunakan paku. Bangunan ini menggunakan pasak kayu pada setiap sambungannya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement