Rabbi Tobia BenChorin, salah satu pemrakarsa proyek, mengatakan bahwa sebagai seorang Yahudi, dia menghubungkan Berlin dengan kenangan akan rasa sakit dan luka yang dalam. Tapi, itu bukanlah akhir dari cerita.
“Situs bersejarah yang memiliki kegelapan di masa lalu memiliki potensi perdamaian di masa depan. Kota ini juga menjadi tempat jalan alternatif, tempat pencerahan dan perkembangan kehidupan Yahudi. Bagi saya, Berlin adalah tentang ingatan dan kelahiran kembali,” ujar Rabbi.
Perencanaan The House of One sudah ada selama 10 tahun. Pembangunannya diperkirakan akan memakan waktu empat tahun. Biaya yang dibutuhkan, yakni €47 juta, hampir terkumpul. Pemerintah federal dan negara bagian Berlin telah menyumbang €30 juta untuk monumen tersebut dan penggalang dana telah mengumpulkan €9 juta. Sebuah kampanye diluncurkan pada Natal tahun lalu untuk mengumpulkan dana yang tersisa.
Pada 2012, sebuah kompetisi bagi arsitek dari seluruh dunia berlangsung demi menemukan rancangan paling original untuk bangunan tersebut. Seorang arsitek Berlin, Kuehn Malvezzi pun yang dinobatkan menjadi arsitek The House of One.
“Dari membangun arsitektur terbaik hingga mendirikan fondasi yang memberikan bobot sepadan antara agama dan masyarakat, pekerjaan kami telah memberikan harapan, menggerakkan, dan memenangkan hati seluruh dunia. Kami sangat bersyukur atas kepercayaan yang kami inspirasikan, yang pada akhirnya menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri kami,” kata Imam Kadir Sanci.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.