Warung itu sederhana dengan nuansa khas pedesaan yang bangunannya terbuat dari anyaman bambu. Saat sampai disana, Agus melihat ada segerombolan anak kecil yang sedang bermain di samping warung. Agus heran mengapa bisa ada banyak anak kecil padahal waktu sudah hampir pagi. Begitu masuk, mereka disambut oleh seorang wanita yang belum terlalu tua mengenakan daster putih dan tersenyum ketika melihat mereka.
Mereka berdua pesan kopi dan meminumnya sambil ngobrol mencairkan suasana. Agus pun membicarakan tentang anak-anak yang bermain di samping warung. Rifkan yang mendengarnya pun heran dan langsung mengecek ke samping warung dan kaget karena ia tak melihat anak-anak itu sama sekali.
Suasana mulai tegang. Ketika mereka berdua mencari ibu-ibu penjaga warung, ia menghilang. Sudah berkali-kali memanggil namun tak ada jawaban. Bukan suara ibu penjaga warung, namun mereka dikagetkan dengan suara ketawa khas Kuntilanak.
“Kami pun bergegas keluar mencari sumber suara. Dan ternyata ada sesosok wanita menyeramkan sedang berdiri di samping pohon besar dekat warung. Matanya putih dan wajahnya pucat serta rambutnya sangat panjang,” kata Agus
Agus dan Rifkan pun berlari ketakutan menjauhi tempat itu dan bergegas kembali ke tempat tambal ban. Saat kembali, rupanya tambal ban itu juga menghilang entah kemana. Ternyata lokasi tambal ban itu adalah sebuah jurang. Untung mobil mereka masih berada di pinggirnya.
(Dewi Kurniasari)