Menurut sejarah, Beondegi pertama kali ditemukan dan dijual bebas di Korea Selatan sejak tahun 1900-an. Industri tekstil saat itu sedang populer dan membuat banyak daerah beramai-ramai mendirikan usaha ternak ulat sutera.
Beondegi dapat dengan mudah ditemui di pinggir-pinggir jalanan Myeongdong dan Hongdae, yang umumnya dikemas dalam cangkir kertas dan siap disantap. Kuliner satu ini cocok dijadikan sebagai pendamping minuman beralkohol seperti soju atau makgeoli.
Baca juga: 6 Kuliner Korea Selatan yang Sempurna Disantap saat Musim Dingin
"Ini dari segi tekstur kayak daging ada extra-extra kacangnya gitu. Tapi rasanya gurih dan asin, mirip kaya belalang khas serangga banget," ungkap pemilik channel YouTube Hari Jisun dalam videonya.
Jajanan ekstrem ini dijual dengan kemasan kaleng dan dapat dijumpai di supermarket maupun toko-toko kecil Korea Selatan. Harganya cukup terjangkau, yakni dibanderol sekitar 500 hingga 2.000 Won atau setara Rp6.000 sampai Rp25.000.
(Rizka Diputra)