Menurutnya, publik tidak bisa kemudian menyamakan apa yang mereka alami dengan kondisi orang lain, dalam hal ini situasi di tempat kerja atau instansi. Untuk mereka yang bekerja di perusahaan dengan jam kerja jelas, tentu tak bisa disamakan dengan orang yang bekerja di perusahaan yang jam kerjanya 'tidak bisa ditebak' seperti industri media misalnya.
"Pada kasus Pandji, kita enggak tahu kan jenis kerjaan dia apa dan jam kerjanya bagaimana, apakah memang jam malam atau bagaimana. Sehingga wajar atau enggak jam kerjanya itu kembali pada perusahaan tersebut, dan kembali pada karyawannya di situ bagaimana perjanjian awalnya. Karena enggak mungkin tiba-tiba sepihak," papar Mei.
Mei menambahkan, pada beberapa kasus, ada orang yang memang suka bekerja 'overtime' karena apa yang dia lakukan adalah passionnya. "Ya, kalau emang passion, biasanya enggak ngerasa terbebani terlebih dia enjoy dan nyaman ngejalanin pekerjaannya," katanya.
Jadi, selagi si karyawan merasa happy dan enjoy menjalankan pekerjaannya, ya, risiko adanya masalah kesehatan mental kecil. "Meski, Anda juga tetap memerhatikan masalah kesehatan fisik, ya. Supaya, pekerjaan Anda yang sesuai passion itu tetap bisa dinikmati secara utuh," ujarnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)