GEJALA covid-19 ternyata tidak hanya demam dan batuk. Delirium menjadi gejala baru infeksi covid-19. Kondisi ini dialami pasien lansia dengan kekhasan berupa perhatian yang berkurang secara akut atau cepat. Penyakit ini tergolong dalam sindrom neuropsikiatri.
Ada beberapa penyebab delirium, di antaranya usia, demensia, low education level, high komorbid, kerapuhan, masalah pendengaran, depresi, menggunakan alkohol, nutrisi buruk, menggunakan obat-obatan seperti opioid, atau memiliki riwayat delirium sebelumnya.
Baca juga: Mengenal Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Dialami Pasien Lansia
Dikatakan Dokter Relawan Covid-19, dr Muhammad Fajri Adda'i, penyebab delirium lainnya ialah terjadinya infeksi akut, kekurangan cairan, gagal ginjal akut, gangguan hati, penggunaan ventilator yang terlalu lama (lebih dari empat hari), atau karena pascaoperasi.
Terlepas dari gejala baru tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan gejala covid-19 dalam beberapa kelompok, yaitu gejala paling umum, gejala umum, dan gejala serius.
Gejala paling umum adalah demam, batuk kering, dan keletihan. Sedangkan, gejala umum antara lain nyeri badan, sakit tenggorokan, diare, konjungtivitis, sakit kepala, kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa atau mencium bau, ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau kaki.
Sedangkan gejala serius covid-19, jelas WHO, yaitu kesulitan bernapas, dada terasa seperti tertekan dan timbul nyeri, serta kehilangan kemampuan untuk berbicara atau menggerakkan tubuh.
Baca juga: Ini Gejala Delirium yang Dialami Pasien Covid-19
Di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menemukan gejala covid-19 lainnya ditandai dengan mual dan hidung tersumbat. Lalu gejala lainnya yang harus diwaspadai adalah Happy Hypoxia Syndrome atau kondisi tubuh memiliki kadar oksigen rendah tetapi terlihat seperti orang normal.
Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM Sumardi menjelaskan bahwa kadar oksigen dalam tubuh seseorang normalnya adalah di atas 95 persen. Penurunan kadar oksigen dalam kondisi ini tidak membuat orang kesulitan bernapas ataupun tidak merasa terengah-engah.
"Pada orang yang mengalami Happy Hypoxia ini tampak normal atau biasa-biasa saja. Karenanya sering dinamakan Silent Hypoxia, sebab terjadi perlahan, lama-lama lemas dan tidak sadar," demikian dikutip dari situs resmi UGM.