"Yang ditimpa dengan pilox itu gambar cadas di Goa Apil Banteng, dan dilakukan oleh orang lokal. Saya tanya alasannya ternyata karena tidak di bayar. Jadi ada WNA melihat gambar cadas Goa Tewet di internet, lalu dia ingin pergi ke sana, tapi karena saya sembunyikan informasinya, dia salah masuk goa," kata Pindi.
"Karena beda goa, warga yang mengantar tidak jadi dibayar. Akhrinya dia marah dan menimpa gambar cadas dengan pilox berwarna merah. Berkaca dari pengalaman ini, artinya menyembunyikan saja belum bisa mengonservasi," imbuhnya.
Pasca-kejadian itu, Pindi sepakat untuk membuka lebar informasi seputar Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, termasuk Goa Tewet. Semuanya dilakukan secara resmi dan penuh kehatian-hatian.
Langkah awal yang dia lakukan adalah melakukan deliniasi, tata ruang, dan batas-batas kawasan untuk dijadikan lahan konservasi. Setelah dirasa aman dari kepentingan-kepentingan lain, strategi selanjutnya adalah menggelar Familiarization Trip.
Kegiatan ini mendapat respons positif dan dukungan penuh dari Pemprov Kaltim, Kemenparekraf, BPCB Kaltim, dan pihak terkait lainnya.
"Tujuannya adalah untuk menyadarkan teman-teman di sini bahwa pariwisata tidak bisa ditahan. Yang bisa dilakukan adalah membangun kompetensinya menjadi tinggi. Sehingga bisa menahan perilaku seenaknya dari wisatawan.
"Dan karena situs-situs di Sangkulirang itu kelas dunia, maka pengelolaannya harus kelas dunia juga. Yang jadi masalah pengelolanya belum kelas dunia, baru setara kabupaten. Itu tantangan yang paling berat," tandasnya.
(Rizka Diputra)