“Jika anak gagal, jangan dimarahi. Tetapi orangtua justru harus bisa menanamkan dalam pikiran si anak bahwa gagal itu adalah normal. Katakan pada anak bahwa gagal itu bagian dari proses, tumbuhkan sikap pada anak untuk bisa mencoba lagi menggapai mimpinya,” terang Tara.
Selanjutnya, Tara menambahkan orangtua juga perlu memberikan pujian dalam mengatasi kecewa pada anak. Bikin anak tetap percaya diri, kemudian baru mencari solusi bersama untuk ke depannya.

Tara juga mengingatkan bahwa tugas orangtua mengarahkan anak sesuai potensinya dengan cara mengingatkan kembali tujuan dan motivasinya tentang mimpi sang anak. Selain itu, anak cenderung berubah dengan mimpinya, maka tanyakan alasannya, dan bantu anak dengan memberi target pada mimpinya, agar mimpi mereka lebih terarah.
“Dalam sebuah proses mengejar cita-cita yang terpenting bukanlah kesempurnaan, tetapi menikmati prosesnya. Anak senang melakukan prosesnya demi mencapai mimpinya,” pungkasnya.
Selain memahami dan mendukung secara psikologis anak dalam mengejar mimpi, tentunya harus mempersiapkan keuangan dengan baik. Untuk itu, diperlukan perencanaan keuangan dengan matang diantaranya dengan memilih investasi yang tepat.