Toxic maskulinitas adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pria dan bagaimana mereka bisa menjadi 'pria' yang sesungguhnya. Hal ini banyak terjadi di dalam hubungan kerja, sekolah, bahkan percintaan.
Pria melakukan tersebut karena telah ditentukan oleh gagasan stereotip masyarakat patriarkal. Banyak dari kita cenderung memberi tahu anak laki-laki kita bagaimana mereka tidak boleh menyerah pada emosi mereka dan harus bertindak seperti laki-laki.
Dengan melakukan itu, kita membangkitkan jiwa yang memilih untuk menekan emosi mereka dan berkembang dalam stereotip yang merusak. Meski begitu, anak laki-laki yang sama menjadi pria dewasa dan mematuhi aturan patriarki yang sama.
Bahkan ketika dalam suatu hubungan, mereka cenderung menyembunyikan banyak hal dari pasangannya dan alih-alih mendiskusikan keluhan mereka dan berbagi masalah mereka, mereka membiarkan maskulinitas beracun masuk dan menghancurkan ketenangan pikiran mereka.
Sementara banyak pria cenderung bangga dengan kejantanan sebagai seorang pria, mereka diam-diam menjadi korban dalam proses tersebut, yang pada gilirannya menciptakan hubungan yang beracun dengan keluarga, rekan kerja, dan bahkan pasangan mereka.
Baca Juga : 4 Pesona Aduhai Wika Salim, Body-nya Makin Singset
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita mungkin mengabaikan implikasi dari maskulinitas yang dibangun secara sosial seperti itu. Akan tetapi, hal tersebut juga bisa menjadi akar masalah baik dari segi mental pria itu sendiri maupun orang-orang di lingkungannya.
Melansir Times of India, berikut merupakan 5 tanda halus dari toxic maskulinitas yang digambarkan pria dalam suatu hubungan.
Pria harus selalu menang

Menang dan kalah merupakan dua sisi yang biasa terjadi dalam sebuah argumen, bahkan dalam urusan rumah tangga. Bagi beberapa orang, menang dan kalah bukanlah sesuatu yang penting. Tetapi bagi seorang pria yang menderita toxic maskulinitas, hal itu menjadi sangat penting karena dalam mindset mereka, pria harus selalu menang.
Berbeda dengan wanita, tidak ada kemungkinan mereka akan menerima kekalahan, sebaliknya mereka akan bekerja keras untuk membuktikan pendapat mereka, yang mungkin akan disetujui oleh pasangan mereka.
Pria rentan terhadap kemarahan dan kekerasan
Dalam suatu hubungan, ada kejadian di mana pertengkaran kecil dapat menyebabkan sesuatu yang memanas. Tetapi masalah sebenarnya muncul ketika rangkaian ketegangan ini berbentuk kekerasan.
Seringkali, pria yang menjadi korban toxic maskulinitas cenderung percaya bahwa mereka secara fisik lebih kuat daripada wanita dan oleh karena itu lebih rentan terhadap kemarahan dan kekerasan.