Kerajaan Pagaruyung justru memilih seekor anak kerbau yang masih menyusu dengan ibunya. Anak kerbau itu dipisahkan dari induknya selama tiga hari sehingga anak kerbau itu tidak bisa menyusu dengan induknya dan menjadi haus. Lalu, di mulut anak kerbau tersebut dipasang sebuah besi yang berbentukk kerucut dan sangat runcing.
Hari yang ditentukan pun tiba. Kerbau-kerbau aduan dibawa ke gelanggang. Kerajaan Majapahit memiliki kerbau aduan yang besar dan kuat.
Kerbau aduan Kerajaan Majapahit terlihat beringas menyerang lawanya, si kerbau kecil. Sementara itu, anak kerbau milik Kerajaan Pagaruyung segera mengejar kerbau besar itu untuk menyusu. Ia mengira bahwa kerbau besar itu adalah ibunya.
Moncong kecilnya berusaha menggapai perut kerbau lawannya, sehingga perut kerbau Kerajaan Majapahit terluka. Karena luka yang semakin banyak, kerbau Kerajaan Majapahit pun tersungkur dan mati.
Rakyat pun bersorak sembari meneriakkan kata "Manang kabau!". Pasukan Kerajaan Majapahit pun diizinkan untuk kembali ke kerajaannya dengan damai tanpa peperangan.
Sementara itu, berita kemenangan kerbau Kerajaan Pagaruyung menjadi buah bibir di seluruh negeri. Manang kabau adalah bahasa penduduk setempat yang berarti menang kerbau. Akhirnya, daerah tersebut dikenal dengan sebutan Manang Kabau yang lama-kelamaan menjadi Minangkabau.
(Kemas Irawan Nurrachman)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.