Ketertarikan pada aktivitas bertukar pasangan atau swinging yang dilakukan seorang dosen di Yogyakarta membuat publik penasaran sekaligus khawatir. Hal 'aneh' semacam itu benar terjadi dan menelan korban.
Beberapa penyintas bersuara atas pelecehan seksual yang dilakukan dosen swinger berinisial BA tersebut. Kebanyakan dari mereka dibuat hanyut dalam cerita mesum swinger yang diutarakan si dosen.
Para korban terjerat karena si dosen BA mengatakan kepada mereka, bahwa dia minta bantuan untuk risetnya tentang swinger.

Meski menurut penuturan dosen BA dirinya hanya tertarik pada aktivitas swinging virtual, tetapi masyarakat mesti tahu bahwa ada bahaya serius yang mengintai mereka yang berani melakukan aktivitas swinging secara langsung.
Dokter Spesialis Kejiwaan Primaya Hospital Bekasi Barat dr Alvina, SpKJ menjelaskan, salah satu risiko yang akan dialami pelaku swinging adalah rusaknya hubungan mereka dengan pasangannya.
"Bila ternyata masalah dalam hubungan seksual dengan pasangan menjadi latar belakang dilakukannya perilaku seks bertukar pasangan dan masalah tersebut tidak diselesaikan, maka hal ini tentu akan berdampak buruk pada pernikahan orang tersebut," ungkap dr Alvina melalui pesan singkat yang diterima Okezone Selasa, (4/8/2020).
Menurut dr Alvina, perilaku swinging juga akan menjadi sangat buruk jika ternyata tidak disetujui kedua belah pihak. "Dampaknya dapat menimbulkan masalah lain dalam pernikahan," tegasnya.
Di sisi lain, risiko masalah kesehatan pun menjadi ancaman serius para swinger. Ya, aktivitas seksual bertukar pasangan membuat Anda berhubungan badan dengan banyak orang dan ini cukup berbahaya, khususnya pada risiko masalah kesehatan alat kelamin yakni infeksi menular seksual (IMS).
Dikutip dari Time, dalam hasil penelitian di Belanda, swinger pada usia di atas 45 tahun sangat rentan terhadap penyakit. Para peneliti pun melihat bahwa aktivitas swinging menjadi jembatan seseorang memiliki penyakit kelamin.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Sexually Transmitted Infections, melihat sebanyak 9.000 pasien yang mengunjungi tiga klinik kesehatan seksual di Limburg Selatan di Belanda dalam tengat waktu 2007 hingga 2008.
Baca juga: Menghitung Kalori Es Kopi Susu Gula Aren Favoritmu
Hasil penelitian menemukan bahwa dari jumlah koresponden yang diteliti, 12% dari mereka adalah seorang swinger, dan 10,4% di antara mereka memiliki penyakit gonorea, chlamydia, atau keduanya. Fakta menarik ditemukan bahwa swinger perempuan lebih berisiko terinfeksi dibandingkan laki-laki.
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.