BICARA soal tempat nongkrong gaul di Jakarta, tentu belum afdol jika belum membahas Kemang. Tongkrongan yang berada di Jakarta Selatan itu, menjadi salah satu surga bagi anak-anak muda untuk melepas penat dari rutinitas mereka.
Mau cari tempat makan dengan harga terjangkau? Atau tempat lunchy-lunchy cantik dan instagramable? Semuanya bisa kamu temukan di Kemang.
Bukan tanpa alasan, Kemang memang rumah bagi banyak restoran, cafe, hingga bar & lounge dengan ciri khas masing-masing.

Bahkan beberapa tempat sengaja mengusung tema khusus seperti menggabungkan kultur Indonesia dengan Jepang, Western, masih banyak lagi. Hal ini ternyata tidak terlepas dari sejarah awal berdirinya Kemang.
Berikut Okezone kutip dari tulisan Alwi Shahab berjudul, Robinhood Betawi: kisah betawi tempo doeloe, nama Kemang berasal dari buah kemang, sejenis mangga (Mangifera kemanga).
Kemang dahulu dikenal sebagai sebuah kampung (desa) Betawi yang kemudian berubah menjadi kawasan perumahan bagi orang asing yang bekerja di Jakarta. Gentrifikasi Kemang dimulai setelah akhir tahun 1970-an.
Kampung Bangka yang berada di dekat Kemang pun mengalami perubahan serupa, sehingga kadang-kadang disebut sebagai "Kemang" juga, meskipun merupakan kampung yang berbeda.
Sampai pada tahun 1970-an, tanah di Kemang dijual untuk digunakan sebagai rumah. Karakter Kemang yang hijau dan subur menarik orang-orang untuk bertempat tinggal di daerah ini, termasuk para ekspatriat.
Lingkungannya juga dekat dengan Segitiga Emas Jakarta. Hal ini pun membuat lebih mudah bagi ekspatriat yang ingin pergi ke pusat kota tapi tidak mau membuang-buang terlalu banyak waktu di lalu lintas setiap hari.
Barulah pada 1998, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengubah peruntukan Kemang dari perumahan (seperti yang dinyatakan dalam rencana induk Jakarta 1985-2005) menjadi kawasan komersial. Pada tahun berikutnya, dia memperkuat keputusan ini dengan mengeluarkan peraturan yang menyatakan Kemang sebagai "kampung modern", mengutip tulisan T.Sima Gunawan (September 2006).
Berawal dari kebijakan tersebut, Kemang pun mulai dipenuhi oleh lebih banyak kegiatan komersial, seperti rumah-rumah yang kemudian diubah menjadi toko ritel. Namun kurangnya perencanaan tata kota, mengakibatkan kemacetan di jalanan Kemang karena relatif sempit.
Saat ini, Kemang telah tumbuh menjadi sebuah daerah yang dikenal secara internasional yang berorientasi menyediakan fasilitas seperti toko kerajinan tradisional hingga klub malam. Beberapa kampung asli masih ada di belakang kompleks perumahan dan apartemen di Kemang.
Tak hanya itu, Kemang menjadi tuan rumah Kemang Festival, yang diadakan sekali atau dua kali setiap tahun sejak tahun 2001. Selama festival, Jalan Kemang Raya ditutup dari kendaraan bermotor dan pedagang kaki lima pun mengisi jalan untuk menawarkan souvenir tradisional, pakaian, dan makanan.
Belakangan, Kemang juga menjadi pusat cafe dan tempat nongkrong kekinian yang nyaman juga asyik. Tempat kekinian tentu tidak hanya sajian kulinernya saja yang nikmat, namun konsep yang unik dan menggugah.

Kamu yang berjiwa seni, bisa nongkrong di dia.lo.gue. Dia.lo.gue memadukan coffee shop dengan artspace. Pengunjung bisa menikmati karya seni yang dipajang sambil minum kopi bersama teman.
Ada juga Warung Pedes dengan konsep warteg modernnya, Mamma Rosy dengan makanan khas Italia, serta menikmati bakery ala Perancis di Sophie Authentique. Masih banyak lagi tempat hits untuk update feed media sosial kamu di kawasan Kemang.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.