Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pariwisata Bersiap Sambut New Normal, Pelaku Bisnis Travel: Siapa yang Berani Liburan?

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Jum'at, 12 Juni 2020 |16:28 WIB
Pariwisata Bersiap Sambut New Normal, Pelaku Bisnis Travel: Siapa yang Berani Liburan?
Ilustrasi (Foto : Freepik)
A
A
A

Beberapa lokasi pariwisata di Indonesia sudah bersiap menyambut wisatawan baik domestik maupun Internasional. Sebut saja Candi Borobudur yang belum lama ini mengeluarkan protokol kesehatan.

Keluarnya aturan protokol kesehatan di Candi Borobudur menandakan kesiapan pengelola menyambut kembali wisatawan di New Normal ini.

Sebelumnya Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), ataupun Taman Safari pun sudah mengeluarkan protokol kesehatan yang juga dimaksudkan agar wisatawan aman dari paparan virus corona saat bertamasya di lokasi wisata.

Penyediaan aturan protokol kesehatan menjadi anjuran pemerintah. Dengan adanya SOP tersebut, memberi jaminan wisatawan bebas dan aman beraktivitas di lokasi wisata tanpa takut terpapar virus corona Covid-19.

Turis Pakai Masker

Di sisi lain, pelaku usaha Travel Kumbang yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, Yunita, mengungkapkan, fakta di lapangan tak selancar itu. Memang sekarang ini bermunculan protokol kesehatan di tempat wisata, tapi masalah lainnya ialah siapa yang mau bertamasya di tengah pandemi seperti sekarang.

"Memang sih tempat wisata mulai menyediakan protokol kesehatan, tapi, siapa yang mau liburan? Masih pada takut buat keluar rumah apalagi berkerumun di satu tempat wisata gitu," kata Yunita saat dihubungi Okezone, Jumat (12/6/2020).

Baca Juga : Potret 5 Artis Indonesia yang Masuk Nominasi 100 Perempuan Tercantik di Dunia

Ia melanjutkan, orang-orang masih punya ketakutan yang sangat besar saat berkerumun kembali. Sederhananya, terang Yunita, saat orang ada di tempat umum seperti pasar, banyak yang takut. "Nah ini tempat wisata, saya belum yakin banyak wisatawan mau liburan di tengah pandemi seperti sekarang," ungkapnya.

Yunita pun menjelaskan, dengan adanya aturan protokol itu, malah akan membuat pengeluaran wisata menjadi semakin tinggi. Contohnya ialah saat jumlah penumpang bus tak bisa 100%, karena aturan itu, dipastikan dalam satu rombongan yang berisi 40 orang, kelompok itu akan menyewa dua unit bus.

"Karena nggak mungkin 40 wisatawan masuk semua ke dalam bus. Kan ada aturan pembatasan jumlah kapasitas bus. Dengan begitu, biaya wisata mereka akan makin tinggi karena harus sewa bus lainnya yang tentu tak murah," paparnya.

(Helmi Ade Saputra)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement