Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

WHO Peringatkan Bahaya New Normal saat Kasus Covid-19 Belum Terkontrol

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Rabu, 27 Mei 2020 |10:37 WIB
WHO Peringatkan Bahaya New Normal saat Kasus Covid-19 Belum Terkontrol
Ilustrasi (Foto : Insider)
A
A
A

Indonesia siap menjalankan kehidupan New Normal. Salah satu tandanya ialah wacana pembukaan secara besar-besaran mal di DKI Jakarta pada awal Juni mendatang. Sekolah pun akan dibuka dengan peraturan ketat protokol kesehatan.

Kehidupan New Normal dipilih untuk menghidupkan kembali roda perekonomian dan juga membiasakan masyarakat hidup berdampingan dengan virus corona Covid-19. Dengan tujuan tersebut, pelonggaran PSBB pun mesti dilakukan.

Tapi, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengecam keras negara-negara yang melakukan pelonggaran PSBB ketika kasus COVID-19 masih belum terkontrol, bahkan cenderung meningkat. Hal ini sangat berisiko menimbulkan kenaikan angka luar biasa.

Waspada COVID-19

Menurut laporan Washington Post, WHO memperingatkan dengan tegas negara-negara agar tidak melonggarkan PSBB terlalu dini. Sebab, diberlakukannya New Normal dalam situasi yang belum terkontrol akan memicu percepatan kasus baru.

"Kami tidak dapat membuat asumsi bahwa hanya karena kasus menurun akan selamanya turun," tegas Mike Ryan, kepala program kedaruratan kesehatan WHO.

Dia memperingatkan bahwa negara-negara dapat menghadapi puncak kasus virus corona lain bahkan sebelum gelombang infeksi kedua diperkirakan bulan ini. "Penyakit ini bisa melonjak kapan saja," tambahnya.

Peringatan ini pun didukung beberapa pernyataan ahli kesehatan terkait dengan bahaya pelonggaran PSBB yang terlalu dini. Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengecam keras pemerintah untuk tidak membuka sekolah pada Juli mendatang.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) mengimbau pemerintah tak membuka sekolah pada Juli mendatang.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement