TANPA ada pandemi COVID-19, menunggu kelahiran buah hati sudah menjadi momen menegangkan bagi para orangtua. Apalagi jika harus melahirkan tepat di situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini.
Inilah pengalaman dari Natasha Ling dan sang suami, Pele. Natasha dan Pele, diketahui aslinya bermukim di Inggris, namun Natasha saat itu bersikeras ingin melahirkan di Singapura meski awalnya berniat ingin melahirkan di London. Tapi melihat kasus COVID-19 di Inggris yang semakin banyak, Natasha memilih untuk melahirkan di Singapura.

“Aku hanya ingin ada di Singapura, aku tahu sekalinya sudah berada di Singapura, maka semuanya akan baik-baik saja,” ujar Natasha.
Alhasil, sebelum memasuki usia kandungan ke-36 minggu, keduanya terbang dari London menuju Singapura. Nekat traveling di tengah pandemi COVID-19, akhirnya mimpi buruk yang ditakuti semua orang terjadi pada Natasha dan Pele, tiga hari setelah sampai di Singapura, keduanya sama-sama positif terinfeksi COVID-19.
Terinfeksi COVID-19 saat hamil tua, membuat perasaan Natasha dan sang suami, bercampur aduk. Natasha menuturkan saat ia dibawa ke rumah sakit , pihak rumah sakit sempat kebingungan karena belum ada pasien COVID-19 yang dalam kondisi mengandung seperti dirinya. Sehingga pihak rumah sakit harus secepatnya menemukan rumah sakit yang punya fasilitas lengkap untuk ibu hamil.
Akhirnya, Natasha pun dirawat di National University Hospital (NUH) dan dirawat di kamar isolasi selama tiga hari. Diisolasi sendirian selama tiga hari, wanita 28 tahun tak menampik dirinya merasa takut dan tak berdaya.
Namun rasa bingung dan takut ini coba dilawan Natasha, saat itu ia memikirkan jika dirinya semakin khawatir maka sang bayi bisa lahir sebelum waktunya. Ia mencoba fokus untuk tidak melahirkan selagi dirinya masih dinyatakan positif COVID-19.
Jika ia terpaksa melahirkan saat masih dinyatakan positif, Natasha harus langsung berpisah dengan bayinya begitu sang bayi dilahirkan. Sang bayi juga harus dinyatakan negatif dari tes yang dilakukan selama tujuh hari, sebelum akhirnya bisa digendong oleh Natasha.
Mengingat kondisinya yang unik, selama di rumah sakit Natasha dan Pele menjalani tes swab setiap hari, bukan per dua hari seperti biasanya. Untuk dinyatakan negatif COVID-19, dua tes swab berturut-turut pasien harus menunjukkan hasil tes negatif.
Di hari ke-10 di rumah sakit, Natasha diberitahu bahwa ia telah negatif COVID-19, dengan hasil tes double negatif. Keesokan harinya, Pele juga telah boleh keluar rumah sakit karena telah negatif COVID-19.
Tim ginekologi rumah sakit NUH mengatakan bahwa jika dalam lima hari berikutnya, Natasha akan melahirkan, maka tim medis akan melanjutkan perawatan dan penanganan seolah-olah Natasha masih positif. Artinya bayi Natasha harus langsung diambil dan dipisahkan dari ibunya.
Demi tujuan penelitian yang bermanfaat untuk ibu hamil dan bayi lainnya, di tengah situasi sulit tersebut Natasha mengizinkan pihak peneliti mengambil darah bayinya untuk penelitian.
Lima hari kemudian, Natasha pun mulai memasuki proses melahirkan. Namun sang bayi tak mau segera keluar dari perutnya, bahkan sampai satu minggu setelah tanggal due date yang diprediksikan. Situasi ini membuat tim dokter memutuskan untuk melakukan induksi pada Natasha.
Di tengah ketakutan kemungkinan sang anak bisa saja tertular COVID-19, mukjizat datang pada keluarga kecil ini. Meski lahir dari orang tua positif COVID-19, ajaibnya Boaz yang lahir dengan berat 3,7 kilogram pada 26 April 2020 lalu, nyatanya negatif COVID-19.
Keajaiban ini bahkan membuat tim dokter menyebut Boaz sebagai bayi ajaib. Kelahiran Boaz ini disebutkan, kemungkinan jadi bayi pertama yang lahir dari orang tua yang terinfeksi positif COVID-19.
“Dokter penyakit menular memberi tahu kami dia adalah bayi super, bayi super Singapura," imbuhnya.
Tapi, penelitian dan tes belum selesai. Dokter mengatakan kepada Natashan dan Pele bahwa semua bukti dan pemahaman tentang COVID-19, menyarankan Boaz bisa menjadi orang Singapura pertama yang dilahirkan dengan antibodi COVID-19.
Sejauh ini bahkan ada bahasan tentang kemampuan untuk memberikan kekebalan seumur hidup, yang masih diperdebatkan di komunitas ilmiah. Demikian seperti diwarta Asiaone, Rabu (6/5/2020).
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.