Contoh perilaku di atas disebutkan memberikan dopamin (hormon pengontrol emosi yang memengaruhi kemampuan mengingat sampai menggerakkan tubuh) bagi sang pemberi dan sang penerima dan semua orang yang berbagi di dalamnya untuk membangkitkan semangat.
Perasaan empati yang telah berevolusi ini nyatanya ada hubungannya dengan sistem saraf loh. Dijelaskan oleh Peter Sterling, Profesor Ilmu Saraf di Fakultas Kedokteran University of Pennsylvania School of Medicine. Ada hubungan jelas dari empati dengan neurobiologi.
Dikatakan, contohnya ketika kita berbagi apa yang kita punya untuk membantu tetangga yang membutuhkan. Maka denyut dopamin dari sirkuit saraf inti yang menghargai setiap peristiwa positif yang tidak terduga. Nah denyut neurokimiawi inilah yang membangkitkan denyut perasaan yang baik, kelegaan sesaat yang dicari.
Empati disebutkan sebagai sifat yang kompleks, ciri-cirinya sering diwariskan sebagian melalui gen kita. Contohnya ketika orang tua yang tinggi mentransmisikan gen tinggi yang berlimpah kepada keturunannya, anak bisa saja mewarisi 200 gen lebih banyak untuk tinggi.
Sekelompok peneliti melalui penelitian pada 2018 lalu menemukan bahwa empati memiliki kontribusi genetik yang substansial.