Penghasilan yang didapatkan Didi dari layanan salon keliling ini, jauh dari kata cukup karena dalam satu minggu belum tentu ia mendapatkan orderan dari pelanggan. Sejauh ini, layanan jasa perawatan salon ke rumah yang ia terima, maksimal dua kali dalam satu pekan. Bahkan pernah dalam satu pekan, ia tidak mendapatkan orderan sama sekali.
“Paling satu sampai dua kali, kadang-kadang malah enggak dapat orderan sama sekali,” ujar Didi lirih.
Pekerjaan tetap melayani orderan salon panggilan ke rumah, dilakukan Didi dengan penuh risiko. Mengingat kebanyakan pelanggannya adalah tipe orang yang cukup sering bepergian ke luar negeri. Tapi risiko tinggi ini harus ditepis Didi sejauh mungkin, demi bisa mendapatkan penghasilan.
“Kalau enggak dikerjain nanti dapur rumah enggak ngebul. Kita di sini perantau, enggak dapat bantuan sembako,” lanjutnya.
Sebagai salah satu golongan pekerja yang paling terdampak, ayah satu anak ini tak menampik ia sesama pekerja di bidang jasa sebetulnya merasa iri dengan perhatian dan banyaknya bantuan yang diberikan masyarakat dan pemerintah kepada golongan pengendara ojek online.
“Ya iri lah, karena posisinya kerjanya sama kok. Sama-sama di bagian jasa. Ya harapannya sekarang semoga kita semua bisa survive menghadapai ujian ini,” tutup Didi singkat.
(Dewi Kurniasari)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.