Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebabkan Komplikasi Jantung, Percobaan Chloroquine untuk COVID-19 Dihentikan

Pradita Ananda , Jurnalis-Kamis, 16 April 2020 |15:08 WIB
Sebabkan Komplikasi Jantung, Percobaan Chloroquine untuk COVID-19 Dihentikan
Ilustrasi (Foto : Live Science)
A
A
A

Chloroquine belakanga ini ramai diperbincangkan karena disebut sebagai obat potensial COVID-19. Tapi, penelitian di Brasil baru-baru ini harus diberhentikan karena efek samping yang ditimbulkan chloroquine.

Penelitian tersebut dihentikan setelah beberapa pasien dalam suatu kelompok mulai mengalami masalah irama jantung yang berbahaya. Awalnya, para peneliti di Brazil berencana memasukkan 440 orang di dalam studi penelitian ini untuk mengetes apakah chloroquine itu aman dan efektif sebagai perawatan untuk COVID-19.

Kemudian para partisipan dibagi dalam dua kelompok, dosis tinggi dan dosis rendah. Untuk kelompok dosis tinggi, mengonsumsi obat chloroquine dalam dosis 600 miligram yang dikonsumsi dua kali sehari selama 10 hari. Sedangkan yang dosis rendah, partisipan mengonsumsi chloroquine 450 miligram selama lima hari, dengan catatan obat diminum sebanyak dua kali hanya saat di hari pertama.

Chloroquine

Penelitan ini digelar dengan konsep double blind. Artinya baik dokter atau para pasien tidak mengetahui kelompok dosis mana yang mereka terima. Tetapi setelah baru memasukkan 81 pasien, para peneliti melihat ada tanda-tanda mengkhawatirkan.

Dalam beberapa hari perawatan dimulai, lebih banyak pasien di kelompok dosis tinggi mulai mengalami masalah irama jantung ketimbang pasien yang ada di kelompok dosis rendah. Dua orang pasien di grup dosis tinggi bahkan mengalami ventricular tachychardia, kondisi detak jantung yang cepat dan abnormal sebelum meninggal.

Hasilnya, para peneliti memutuskan untuk segera menghentikan kelompok studi dosis tinggi. Mereka memperingatkan agar tidak menggunakan dosis tinggi untuk setiap pasien COVID-19. Temuan ini dituliskan oleh para peneliti dalam makalah mereka yang diunggah pada 11 April 2020 lalu ke basis data medRxiv, cukup untuk menjadi sinyal bahwa penggunaan dosis tinggi chloroquine perlu dihentikan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement