Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peneliti Uji Vaksin TB dan Polio untuk Lawan COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra , Jurnalis-Selasa, 14 April 2020 |13:30 WIB
Peneliti Uji Vaksin TB dan Polio untuk Lawan COVID-19
Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)
A
A
A

Juru Bicara Institut Kesehatan Nasional AS, Jennifer Routh, sedang berdiskusi tentang proposal untuk mempelajari vaksin TB dan polio. Tapi ada peringatan besar bahwa vaksin hidup berisiko bagi orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Kepala Imunobiologi Rumah Sakit Massachusetts, dr. Denise Faustman mengatakan vaksin tersebut juga tidak boleh diberikan terhadap pasien COVID-19 di luar uji coba penelitian.

“Anda tidak bisa hanya memberikannya. ini semacam peluang luar biasa untuk membuktikan atau menyangkal efek yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.

Bertahun-tahun lalu, para ilmuwan mulai meneliti beberapa vaksin hidup. Hal ini diungkapkan oleh Pakar Sistem Kekebalan si Fakultas Kedokteran Universitas San Diego, California, dr. Victor Nizet.

“Keingintahuan penting yang membuat orang-orang tertarik untuk mencoba memanfaatkannya,” ucap dr. Nizet.

vaksin

Sekadar informasi, BCG sebagian besar diberikan kepada bayi yang baru lahir di negara berkembang. Vaksin ini hanya menawarkan perlindungan parsial terhadap TB, dan infeksi bakteri.

Tapi studi pengamatan menunjukkan bahwa selama masa kanak-kanak, titik yang divaksinasi memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik. Hal yang sama juga berlaku pada virus yang menyerang pernapasan.

Pada 2018, tim Netea menerbitkan tes hasil tes yang mereka temukan. Ini menunjukkan bahwa BCG merangsang pertahanan kekebalan yang cukup. Sehingga mampu memblokir sebagian virus lain yang diberikan secara eksperimental.

Sementara untuk vaksin polio oral, Spesialis Vaksin di Food and Drug Administration, Konstantin Chumakov mengatakan petunjuk tersebut muncul pertama kali dari Uni Soviet. Sang ibu adalah seorang ilmuwan Soviet yang menerbitkan penelitian pada 1970-an.

Penelitian itu menunjukkan bahwa kasus-kasus flu menurun tajam setelah vaksinasi polio oral. Pada 2015, peneliti Denmark juga menemukan beberapa petunjuk perlindungan silang setelah vaksinasi polio oral.

Vaksin polio oral masih digunakan di negara-negara berkembang, sementara AS dan beberapa negara lain telah menghilangkannya. Mereka menggantinya dengan suntikan tidak aktif untuk vaksin rutin anak.

Tujuan umum vaksin adalah untuk membuat tubuh mengenali ancaman kesehatan tertentu dan membuat antibodi mampu melawan ketika virus tersebut muncul. Sayangnya vaksin ini membutuhkan waktu.

Pada tanda pertama infeksi, barisan pertama sel darah putih yang bertindak seperti prajurir, beraksi untuk menangkis virus dan bakteri dengan apa yang disebut kekebalan bawaan. Jika mereka gagal, maka tubuh menciptakan pasukan khusus yang lebih bertarget untuk bergabung melawan virus.

Netea mengatakan BCG mampu memprogram ulang sel-sel imun bawaan sehingga mereka dapat lebih mudah menghilangkan kuman dan virus. Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam upaya ini mengatakan penemuan itu layak untuk diuji.

"Alasan ilmiah, saya pikir, cukup logis. Yang tidak diketahui adalah apakah virus corona berada dalam spektrum hal-hal yang dilindungi secara efisien oleh kekebalan bawaan tingkat pertama,” kata Nizet.

Beberapa ilmuwan berteori bahwa negara-negara dengan populasi besar yang divaksinasi BCG mungkin lebih baik dalam menghadapi pandemi. Tetapi dengan menghitung secara akurat, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.



(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement