Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peneliti Uji Vaksin TB dan Polio untuk Lawan COVID-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra , Jurnalis-Selasa, 14 April 2020 |13:30 WIB
Peneliti Uji Vaksin TB dan Polio untuk Lawan COVID-19
Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)
A
A
A

Para ilmuwan sedang memilah vaksin-vaksin lama seperti tuberkulosis (TB) dan Polio yang berusia beberapa puluh tahun lalu. Hal ini dilakukan dalam upaya mendapatkan perlindungan sementara dari COVID-19 yang menyerang dunia.

Vaksin bekerja untuk menyembuhkan penyakit tertentu, namun dibuat menggunakan strain bakteri atau virus yang hidup. Tujuannya untuk meningkatkan lini pertahanan dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Ini adalah suatu cara yang umum untuk melindungi diri dari kuman penyakit. Buku-buku sejarah menunjukkan beberapa vaksin dapat memberikan perlindunan silang terhadap penyakit lain yang sama sekali berbeda.

Sayangnya saat ini belum ada bukti bahwa pendekatan tersebut dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap COVID-19. Vaksin COVID-19 diperkirakan bakal memakan waktu 12 hingga 18 bulan.

Uji Coba Vaksin

Sebagaimana dilansir NBC News, Selasa (14/4/2020), beberapa peneliti mengatakan ingin melakukan pendekatan tes yang lebih cepat, dimulai dengan vaksin TB.

Dokter dari Radboud University Medical Center Belanda, dr. Mihai Netea mengatakan pendekatan ini masih hipotesis. Tapi jika berhasil, maka penelitian ini menjadi sangat penting untuk menjembatani pandemi COVID-19 sambil menunggu vaksin yang tepat dan spesifik di pasaran.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras, pada awal pekan ini untuk tidak menggunakan vaksin TB terhadap COVID-19. Kecuali jika penelitian bisa membuktikannya dan berhasil.

Hampir 1.500 tenaga kesehatan Belanda telah berjuang untuk sebuah studi yang dipimpin tim Netea. Ia menggunakan vaksin TB bernama BCG. Vaksin ini terbuat dari saudara bakteri hidup tetapi dilemahkan dari kuman TB.

Di Australia, para peneliti berharap dapat mendaftarkan 4.000 tenaga medis rumah sakit untuk menguji BCG. Sementara 700 orang sudah menerima vaksin TB. Penelitian serupa sedang direncanakan di negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS).

Setelah penelitian vaksin TB, vaksin polio oral juga akan diperiksa. Vaksin ini dibuat dari virus polio hidup yang telah dilemahkan. Global Virus Network yang berbasis di Baltimore berharap dapat memulai studi serupa dengan vaksin.

Saat ini penelitian mengenai vaksin sedang dalam pembicaraan dengan otoritas kesehatan. Co-founder Virus Network, dr. Robert Gallo mengatakan studi cepat diperlukan untuk mengetahui efek jangka panjang dari kedua vaksin ini.

Juru Bicara Institut Kesehatan Nasional AS, Jennifer Routh, sedang berdiskusi tentang proposal untuk mempelajari vaksin TB dan polio. Tapi ada peringatan besar bahwa vaksin hidup berisiko bagi orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Kepala Imunobiologi Rumah Sakit Massachusetts, dr. Denise Faustman mengatakan vaksin tersebut juga tidak boleh diberikan terhadap pasien COVID-19 di luar uji coba penelitian.

“Anda tidak bisa hanya memberikannya. ini semacam peluang luar biasa untuk membuktikan atau menyangkal efek yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.

Bertahun-tahun lalu, para ilmuwan mulai meneliti beberapa vaksin hidup. Hal ini diungkapkan oleh Pakar Sistem Kekebalan si Fakultas Kedokteran Universitas San Diego, California, dr. Victor Nizet.

“Keingintahuan penting yang membuat orang-orang tertarik untuk mencoba memanfaatkannya,” ucap dr. Nizet.

vaksin

Sekadar informasi, BCG sebagian besar diberikan kepada bayi yang baru lahir di negara berkembang. Vaksin ini hanya menawarkan perlindungan parsial terhadap TB, dan infeksi bakteri.

Tapi studi pengamatan menunjukkan bahwa selama masa kanak-kanak, titik yang divaksinasi memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik. Hal yang sama juga berlaku pada virus yang menyerang pernapasan.

Pada 2018, tim Netea menerbitkan tes hasil tes yang mereka temukan. Ini menunjukkan bahwa BCG merangsang pertahanan kekebalan yang cukup. Sehingga mampu memblokir sebagian virus lain yang diberikan secara eksperimental.

Sementara untuk vaksin polio oral, Spesialis Vaksin di Food and Drug Administration, Konstantin Chumakov mengatakan petunjuk tersebut muncul pertama kali dari Uni Soviet. Sang ibu adalah seorang ilmuwan Soviet yang menerbitkan penelitian pada 1970-an.

Penelitian itu menunjukkan bahwa kasus-kasus flu menurun tajam setelah vaksinasi polio oral. Pada 2015, peneliti Denmark juga menemukan beberapa petunjuk perlindungan silang setelah vaksinasi polio oral.

Vaksin polio oral masih digunakan di negara-negara berkembang, sementara AS dan beberapa negara lain telah menghilangkannya. Mereka menggantinya dengan suntikan tidak aktif untuk vaksin rutin anak.

Tujuan umum vaksin adalah untuk membuat tubuh mengenali ancaman kesehatan tertentu dan membuat antibodi mampu melawan ketika virus tersebut muncul. Sayangnya vaksin ini membutuhkan waktu.

Pada tanda pertama infeksi, barisan pertama sel darah putih yang bertindak seperti prajurir, beraksi untuk menangkis virus dan bakteri dengan apa yang disebut kekebalan bawaan. Jika mereka gagal, maka tubuh menciptakan pasukan khusus yang lebih bertarget untuk bergabung melawan virus.

Netea mengatakan BCG mampu memprogram ulang sel-sel imun bawaan sehingga mereka dapat lebih mudah menghilangkan kuman dan virus. Para ilmuwan yang tidak terlibat dalam upaya ini mengatakan penemuan itu layak untuk diuji.

"Alasan ilmiah, saya pikir, cukup logis. Yang tidak diketahui adalah apakah virus corona berada dalam spektrum hal-hal yang dilindungi secara efisien oleh kekebalan bawaan tingkat pertama,” kata Nizet.

Beberapa ilmuwan berteori bahwa negara-negara dengan populasi besar yang divaksinasi BCG mungkin lebih baik dalam menghadapi pandemi. Tetapi dengan menghitung secara akurat, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.



(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement