PENYAKIT yang banyak dihadapi orang Indonesia adalah sakit gula alias diabetes, disusul dengan hipertensi. Kedua penyakit tersebut, diklaim menjadi penyakit yang paling mengancam kita jika terpapar virus Corona COVID-19.
Tapi sebenarnya lebih baik berbahaya mana, terlalu banyak gula atau terlalu banyak garam? Memang, kebanyakan makanan yang manis atau asin, berbahaya buat kesehatan. Baik gula dan garam masing-masing memang punya risikonya sendiri bagi tubuh Anda.
Namun, di antara keduanya, sebenarnya mana yang lebih parah? Apakah kebanyakan gula atau kebanyakan garam? Tenang, berikut ini adalah pertimbangan dari para ahli yang harus dicatat baik-baik seperti dilansir dari healthline.
Gula dibutuhkan manusia sebagai sumber karbohidrat sederhana. Karbohidrat diperlukan untuk menghasilkan kalori (energi). Energi sendiri digunakan untuk menjalankan bermacam-macam tugas. Misalnya fungsi kognitif otak, fungsi sistem pencernaan, dan fungsi gerak tubuh.

Sementara untuk garam, memiliki zat mineral bernama natrium yang terkandung di dalamnya untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Pada dasarnya, kelebihan asupan apapun tak baik buat kesehatan Anda. Akan tetapi, tak ada salahnya untuk mencari tahu perbandingan bahaya antara pola makan kebanyakan gula dan kebanyakan garam.
Kekhawatiran terbesar para ahli gizi dan tenaga kesehatan seputar bahaya kebanyakan garam adalah risiko tekanan darah tinggi (hipertensi). Ini karena dalam tubuh Anda natrium dalam garam bertugas untuk menahan cairan dalam tubuh.