Tahukah Anda bahwa hipertensi atau darah tinggi menjadi salah satu dari penyakit yang disebut silent killer. Pasalnya penyakit yang tak bisa disembuhkan ini hadir nyaris tanpa gejala.
Hal tersebut pada akhirnya membuat penderita hipertensi tidak menyadari udah terkena penyakit ini. Selain tak bergejala, penyakit hipertensi juga diketahui terkait erat dengan penyakit kronis lainnya, seperti stroke dan jantung koroner.
Di dunia sendiri, tercatat satu dari empat orang dewasa memiliki hipertensi. Sedangkan jumlah penderita hipertensi di Asia Pasifik sendiri mencapai 65 persen dari total populasi dunia. Di Asia, disebutkan bahwa lebih dari tiga perempat kenaikan prevalensi hipertensi disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan serta pengaruh gaya hidup yang tidak sehat.
Dalam penangannya, mungkin banyak yang masih belum mengerti mengapa seorang pasien hipertensi itu wajib hukumnya mengonsumsi dua obat sekaligus. Dengan kata lain, para penderita hipertensi untuk mengontrol hipertensi tersebut, tidak bisa meminum obat hanya satu macam.

Dituturkan oleh Dr. Erwinanto, SpJP(K), pengobatan untuk pasien hipertensi itu selalu dimulai dengan kombinasi dua obat sekaligus. Tidak bisa dimulai hanya dengan menggunakan satu jenis obat. “Enggak bisa pakai hanya satu obat, kebanyakan rata-rata pakai dua obat yang harus jadi satu kemasan, jika dipisah kebanyak orang malah lupa minumnya. Bisa juga pakai tiga jenis obat, bahkan lebih dari tiga. Tapi obat jenis satu (ACE-I) dan dua (ARB) tidak boleh digabung,” ujar Dr. Erwinanto, SpJP(K), saat ditemui Senin (24/2/2020) dalam acara “Media Briefing Menarini” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.