Meski demikian lembaga tersebut mengatakan keefektifan kedua obat itu pada manusia memerlukan tes klinis lebih lanjut. Saat ini China mampu membuat Chloroquine dan sekarang menginginkan akses untuk membuat Remdesivir.
Jika hak paten ini diberikan, Gilead harus bernegosiasi dengan pemilik hak paten China ketika ingin menjual obat untuk mengobati infeksi virus korona Wuhan di virus luar China.
"Hal yang baik dalam memiliki paten adalah bahwa hal itu akan mengarah pada situasi lisensi silang yang memberi China lebih banyak tawar-menawar dalam menegosiasikan biaya lisensi dengan Gilead. Ketika Gilead ingin menjual obat itu ke negara-negara lain untuk memerangi virus korona, mereka harus bernegosiasi dengan China sebagai negara yang memiliki paten untuk tujuan spesifik itu,” terang Wang.

Gilead akan mempertahankan hak global untuk memasarkan obat antivirus untuk mengobati penyakit lain seperti Ebola dan SARS yang awalnya ditujukan untuk obat tersebut. Lembaga di Wuhan mengatakan bahwa mereka membuat permintaan hak paten untuk kepentingan nasional.
Mereka tidak akan menggunakan hak patennya jika perusahaan farmasi asing bekerjasama dengan China untuk memberantas penularan wanah virus korona. Saat ini, Gilead mengirimkan dosis yang cukup untuk mengobati 500 pasien dan meningkatkan pasokan jika uji klinis dilakukan. Menurut dr. Parsey, karena obat ini sulit untuk diproduksi, Gilead bekerja secepat mungkin untuk menghasilkan lebih banyak.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.