Namun sebenarnya selama prosedur medis tekanan darah perempuan tersebut naik. Selain itu ada indikasi kesusahan. Sayangnya hal itu tak membuat operasi dihentikan. Padahal seharusnya dokter tidak melakukan tindakan medis pada pasien yang sadar.
"Tampaknya gangguan komunikasi menyebabkan penggunaan anestesi atau obat bius yang salah. Kami mohon maaf jika pasien ini menderita dan mengalami kesusahan sebagai akibatnya," ujar juru bicara rumah sakit seperti dikutip Okezone dari USA Today, Jumat (13/12/2019).

Namun hingga kini belum ada kesepakatan antara perempuan yang dibius keliru dan firma hukum dengan rumah sakit. Kelanjutan dari kasus ini juga belum diketahui secara pasti.
"Pada tahun-tahun tertentu, kami melakukan lebih dari 15 ribu operasi. Banyak di antaranya telah menyelamatkan jiwa pasien. Kami bangga dengan standar perawatan dan keselamatan setinggi mungkin," bela juru bicara rumah sakit.
(Dewi Kurniasari)