Indonesia dikenal sebagai gudang-nya orang dengan kulit eksotis, jenis kulit yang didambakan para bule. Sekeren itukah punya warna kulit kecoklatan?
Okezone berhasil mengulik sejarah tren kulit eksotis di kalangan Barat. Ternyata semuanya dimulai sejak tahun 1920an. Kala itu seorang sosialita Paris bernama Coco Chanel pulang dari liburan musim panas di pinggir pantai Antibes, Cannes. Saat tampil di depan publik banyak yang terpesona melihat perubahan kulitnya akibat terlalu banyak berjemur.
Sejak saat itulah orang awam berbondong-bondong ikutan menjemur diri agar punya kulit serupa. Konon kulit coklat keemasan saat itu menunjukkan pula kemampuan finansial seseorang untuk berlibur.

Bisnis pencoklatan kulit memakai mesin tanning pun merebak di negara-negara Eropa sampai benua Amerika. Para selebs dunia sampai bela-belain berjemur bahkan tanning alias menghitamkan diri sampai kulitnya coklat glowing lho! Sebut saja model Heidy Klum, Paris Hilton, aktris Lindsay Lohan sampai Victoria Beckham. Bahkan penyanyi go international Agnez Mo pun ikut-ikutan.
Kalau pesohor lain yang dikaruniai kulit coklat eksotis tinggal melenggang tanpa usaha. Ada Kim Kardashian, J Lo, hingga Salma Hayek yang memang berdarah campuran.
Apa sih kelebihan berkulit eksotis? Okezone berusaha mencari jawabannya buatmu di Okezone Weekend kali ini. Mulai dari menguak fakta ataukah mitos tentang kulit eksotis yang bisa cegah kanker. Sampai menjawab kulit eksotis vs kulit putih, seksi mana?
Tentu banyak plus dan minusnya. Kalau si pemilik kulit terang acapkali mudah memadumadankan pakaian, si kulit eksotis harus pandai memilih agar tampilannya tetap stunning.