Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lagi Berjemur, Pemuda Jepang Ini Ditemukan Meninggal

Pradita Ananda , Jurnalis-Kamis, 08 Agustus 2019 |16:31 WIB
Lagi Berjemur, Pemuda Jepang Ini Ditemukan Meninggal
Ilustrasi (Foto: Sciencenews)
A
A
A

Cuaca panas dengan sinar matahari yang sangat menyengat nyatanya tidak hanya dirasakan masyarakat Indonesia, terutama para penduduk Jakarta. Musim panas dengan sinar matahari terik juga tengah terjadi di Jepang.

Untuk temperatur, musim panas di Jepang disebutkan ada di titik suhu sekitar 32 hingga 34 derajat celcius, yang mana jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan musim panas di Amerika.

Tapi bukan berarti cuaca panas di Jepang tidak berefek apa-apa. Nyatanya, cuaca panas ini bisa menyebabkan seseorang terkena heatstroke.

 Pemuda Jepang

Seperti yang terjadi pada seorang pemuda yang tinggal di kota Yatomi, Aichi Prefecture satu ini. Sebagaimana dilapor Soranews24, Kamis (8/8/2019) sang pria yang tidak disebutkan namanya tersebut harus meregang nyawa. Padahal niat awalnya, pria berusia 28 tahun tersebut hanya ingin berjemur di bawah sinar matahari di halaman rumahnya.

Sang pria, disebutkan ditemukan telah tidak sadarkan diri oleh sang ibunda, yang kebetulan tengah tidak berada di rumah. Ketika sesampainya di rumah, sang ibunda menemukan putranya tersebut berada di halaman rumah berjemur di atas kursi.

Sadar sang anak sudah pingsan di atas kursi, ia pun langsung menghubungi petugas paramedis. Kemudian petugas paramedis pun menyadari bahwa pemuda malang tersebut telah mengalami kondisi gagal jantung. Selanjutnya, petugas paramedis pun segera membawa sang pria ke rumah sakit.

Sayangnya, usaha ini sia-sia sebab ternyata pemuda tersebut telah tewas dalam kurun waktu sekitar 40 menit setelah sang ibunda menemukannya pingsan di halaman rumah, yang disebutkan para dokter menghubungkan kematian ini dengan efek dari heatstroke.

Sementara itu, ibu korban sendiri disebutkan tidak mengetahui dengan pasti berapa lama durasi sang putra berjemur di halaman rumah mereka. Para tetangga menyebutkan, di hari insiden ini terjadi kala itu catatan laporan cuaca disebutkan ada di temperatur 34,2 derajat celsius, dan 32,7 derajat celsius di pukul 3 sore.

Tapi sekali lagi, mungkin dari catatan angka suhu memang terlihat tidak terlalu mengancam. Tapi diketahui lebih lanjut, jika cuaca panas ini dikombinasikan dengan tingkat kelembapan udara Jepang yang tinggi. Maka efek kombinasinya bisa jadi faktor pemicu terjadinya terjadinya dehidrasi pada tubuh dengan kecepatan “menipu” yang berbahaya.

(Utami Evi Riyani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement