Seperti dikutip Okezone dari laman resmi WHO, dikatakan di sana kalau kedekatan lokasi perkembangbiakan vektor nyamuk dengan tempat tinggal manusia merupakan faktor risiko yang signifikan untuk chikungunya dan juga untuk penyakit lain yang ditularkan oleh spesies ini.
Pencegahan dan pengendalian sangat bergantung pada pengurangan jumlah habitat wadah berisi air alami dan buatan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Ini membutuhkan mobilisasi masyarakat yang terkena dampak.
Selama mewabah, insektisida dapat disemprotkan untuk membunuh nyamuk terbang, diaplikasikan pada permukaan di dalam dan sekitar wadah di mana nyamuk mendarat, dan digunakan juga untuk mengolah air dalam wadah untuk membunuh larva yang belum dewasa.
Untuk perlindungan selama wabah chikungunya, pakaian yang meminimalkan paparan kulit pada vektor yang menggigit sangat disarankan. Krim anti nyamuk juga bisa diterapkan pada kulit yang terpapar atau pakaian sesuai dengan instruksi label produk.
Krim anti nyamuk harus mengandung DEET (N, N-diethyl-3-methylbenzamide), IR3535 (3- [N-acetyl-N-butyl] -aminopropionic acid ethyl ester) atau icaridin (1-piperidinecarboxylic acid, 2- (2-hydroxyethyl) -1-methylpropylester).
Bagi Anda yang tidur di siang hari, terutama anak-anak kecil, atau orang sakit atau orang tua, kelambu yang diberi insektisida memberikan perlindungan yang baik. Kumparan nyamuk atau alat penguap insektisida lainnya juga dapat mengurangi gigitan dalam ruangan.
Tindakan pencegahan dasar harus diambil oleh orang-orang yang bepergian ke daerah berisiko dan ini termasuk penggunaan krim anti-nyamuk, memakai lengan panjang dan celana panjang, dan memastikan celah kamar dilengkapi dengan pelindung atau penutup ruangan untuk mencegah masuknya nyamuk.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.