Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyesap Kopi Susu Sembari Belajar Bahasa Isyarat di Sunyi House of Coffee and Hope

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Rabu, 19 Juni 2019 |08:02 WIB
Menyesap Kopi Susu Sembari Belajar Bahasa Isyarat di Sunyi House of Coffee and Hope
Kedai Kopi Sunyi House of Coffee and Hope (Foto: Dimas Andhika Fikri/Okezone)
A
A
A

Belajar bahasa isyarat

Sebelum mendirikan Sunyi House of Coffee and Hope, Almas dan teman-temannya sepakat untuk mempelajari bahasa isyarat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi dengan para karyawannya kelak. Mereka pun memutuskan untuk mengambil kursus singkat di Universitas Indonesia selama kurang lebih lima bulan.

"Sambil menunggu kedai selesai dibangun, kami membekali diri dengan belajar isyarat hingga akhir tahun 2018," terangnya.

 Penjual dan pembeli

Barulah pada awal 2019, Almas dan Mario mulai berani membuka lowongan pekerjaan di sejumlah komunitas, dan situs rekrutmen khusus bagi kaum difabel. Proses rekrutmen memakan waktu selama kurang lebih 1 bulan. Dalam rentang waktu tersebut, Almas menerima 62 lamaran.

"Yang kami interview cuman 17 orang, dan akhirnya 4 orang yang lolos. Seminggu yang lalu baru nambah satu barista lagi," tambahnya.

Toleransi pengunjung sangat tinggi

Tepat pada 3 April 2019, Sunyi House Coffee and Hope resmi beroperasi. Setelah 2 bulan berjalan, Almas mengaku mendapat banyak respons positif dari para pengunjung yang datang ke kedai kopi miliknya.

Tidak hanya itu, sejumlah influencers juga bersedia membantu mempromosikan Sunyi secara cuma-cuma. Tapi ternyata ia juga menerima beberapa keluhan konsumen seperti ketika makanan atau minuman yang diantarkan tidak sesuai dengan pesanan, atau masalah waktu penyajian yang terlalu lama.

 Pria

"Alhamdulillah, orang-orang Indonesia punya toleransi yang sangat tinggi. Jadi sebagai permintaan maaf, biasanya kita kasih cookie. Nah, dari keluhan tersebut, habitnya sudah mulai kebentuk. Lambat laun barista kami pun mulai meningkatkan performanya," papar Almas.

Keunikan lain dari kedai kopi ini adalah konsep full service yang dilakukan oleh para barista.

"Sempat kepikiran pakai konsep self service. Caranya diakali dengan nomor antrian, atau bunyi-bunyian khusus seperti bel. Tapi kami rasa lebih pas full service, karena pengunjung bisa berinteraksi dengan barista kami saat makanan diantar," beber Almas.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement