Bahkan, beberapa tahun setelah meninggalnya sang suami, Sri sadar ada pria yang kagum padanya dan ingin memilikinya. Tapi, satu hal yang membuat dia menolak semua pria yang datang padahanta ialah apakah sifatnya sama seperti sosok pria Betawi yang merupakan ayah dari dua anak tersebut.
Lika-liku rumah tangga tapi tetap dia alami. Salah satu momen yang cukup diingat sampai sekarang ialah saat Sri diminta untuk menetap bersama mertuanya. Satu atap. Hal ini diakui Sri sempat membuat adik-adiknya kecewa. Sebab, keluarganya ingin Sri bisa menetap di luar rumah mertuanya. Tapi Sri pikir itu bukan pilihan yang bijak.
"Saya mengiyakan untuk ikut suami menetap bersama orangtuanya di Jakarta. Kami tinggal satu apa hingga akhirnya di saat anak pertama mulai besar, saya dan suami membangun rumah percis di samping rumah mertua saya," paparnya.
Hal ini pun sesuai dengan permintaan mertuanya. Jadi, Sri melanjutkan, dalam budaya keluarga suami, anak pertama itu mesti tinggal tak jauh dari keluarga. Dan kebetulan suami Sri ini anak pertama, jadi mereka akhirnya membangun "gubuk" di samping rumah mertuanya.
"Saya pikir lagi, untuk apa saya mempertahankan ego jika memang ini juga untuk kebaikan banyak orang. Saya pun senang dan bahagia bisa tinggal berdekatan dengan mertua. Alhamdulillahnya, saya yang orang Jawa ini bisa sangat mudah membaur dengan lingkungan baru dan saat diminta hidup bareng mertua, ya, bukan masalah bagi saya. Saya yakin juga saya mampu," ujar Sri.

Sosok ibu-ibu periang tersebut coba menjelaskan hal yang terdengar unik dan pernyataannya ini membantah kalau pria Betawi itu semuanya sama.
"Suami saya itu nggak doyan sama sayur asem dan sayur kacang panjang. Padahal bisa dibilang itu makanan khas Betawi," ungkapnya sedikit tertawa. Fakta ini juga yang memperkuat keyakinan dia kalau memang semua orang itu berbeda, sekali pun dia berasal dari suatu suku yang sama.