"Mengetahui bagaimana obat tersebut memberikan efeknya merupakan langkah penting untuk menetapkan oksitosin sebagai pengobatan untuk makan berlebihan dan obesitas," kata Dr Liya Kerem selaku pemimpin peneliti studi tersebut, yang merupakan ahli endokrinologi pediatrik di MassGeneral Hospital for Children dan seorang peneliti di Massachusetts.
Penelitian ini dilakukan pada 10 pria muda kelebihan berat badan yang dinyatakan sehat. Subjek dibuat untuk mengunjungi lab dua kali di mana mereka menerima dosis tunggal semprot oksitosin atau plasebo. Para peserta tidak mengetahui perawatan apa yang sedang diberikan kepada mereka. Setelah sekitar satu jam, para peserta diperlihatkan gambar-gambar benda berkalori tinggi, rendah kalori dan non-makanan saat mereka melewati fMRI—pencitraan resonansi magnetik fungsional—suatu teknik yang mengukur perubahan aliran darah di otak.
Hasilnya ditemukan bahwa orang yang mengonsumsi oksitosin telah melemahkan konektivitas fungsional antara ventral tegmental area (VTA) dan area otak yang berkaitan dengan motivasi makanan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki plasebo. Orang-orang juga tidak mengalami efek samping dari perawatan oksitosin
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.