“Jika visi dari sekolah adalah mengembangkan kemampuan siswa, saya memang tidak bisa melihat, tapi ijinkan saya untuk mengajar agar anak-anak dapat melihat masa depan yang cerah,” kata-kata itulah yang keluar dari mulut Ice saat ia dipertemukan dengan sejumlah pengurus sekolah di ruang rapat. Meskipun telah mendapat banyak cibiran dan perlakuan tak mengenakkan, namun ia tetap teguh terhadap pendiriannya menjadi seorang guru.
Pengalaman tidak menyenangkan terus dialami oleh Ice, hingga pada akhirnya ketiga siswinya yang terkenal badung menantang sang guru untuk berjalan menghampirinya tanpa mengenakan tongkat bantuan. Ice pun dengan berani membuktikannya. Perlahan demi perlahan kakinya pun melangkah berusaha untuk menghampiri muridnya, nahas ia tersandung dan terjatuh tepat di hadapan siswi-siswinya.
Tiga orang sisiwi yang awalnya membangkang pun seakan luluh dengan keteguhan hati Ice yang terus berjuang meyakinkan para murid yang meremehkan kemampuannya. Melihat gurunya terjatuh, seluruh murid pun berusaha menolong dan membantunya berdiri. Hingga akhirnya para murid itu pun berkumpul di lapangan dan meminta maaf atas perbuatannya yang tidak sopan kepada sang guru.
“Kalian terkadang keras kepala, tapi bapak tidak pernah marah kepada kalian. Bapak mungkin galak kepada kalian, tapi bapak melakukan itu karena ingin kalian menjadi anak yang baik, ingin memiliki masa depan yang baik, kalian lakukan untuk diri kalian ya,” ucap Ice.
Tidak ada dengki, maupun marah yang keluar dari mulut Ice terhadap para muridnya yang telah melakukan perbuatan tak menyenangkan selama ini. Seketika pecah haru mewarnai lapangan sekolah, para murid yang sebelumnya meremehkan kemampuan Ice langsung meminta maaf di hadapannya.