Hingga akhirnya sekolah memutuskan untuk menggantikan Ice dengan guru lain, untuk memecah keributan yang sudah terjadi dalam kelas. Meskipun tunanetra, namun Ice merupakan lulusan jurusan pendidikan Bahasa Inggris dengan nilai First-class honours (A). Meskipun, ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, namun banyak orang meremehkan kemampuannya karena keterbatasan fisiknya.
Cibiran kembali dirasakan oleh Ice, ketika para orangtua murid berkumpul untuk melakukan pertemuan dengan pihak sekolah. Hampir semua orangtua murid meragukan kemampuan Ice dalam menjadi seorang guru. Hingga akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk membawa keluar Ice untuk menyembuhkan suasana yang kurang kondusif di dalam ruang pertemuan.
Betapa hancurnya hati Ice, ketika hambatan sosial menjadi sebuah tantangan terberat bagi hidupnya saat ini. Ia pun seakan terkucilkan dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya. Pihak sekolah pun akhirnya memutuskan untuk memindahkan posisi Ice dari guru menuju bagian registrasi untuk mengurangi protes dari para siswi dan orangtua murid yang keberatan diajarkan oleh guru tunanetra.